Mohon tunggu...
Yovinus
Yovinus Mohon Tunggu... Dosen - laki-laki

Hidup itu begitu indah, jadi jangan disia-siakan. Karena kehidupan adalah anugerah Tuhan yang paling sempurna bagi ciptaanNya

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

P5 dan Merdeka Belajar-Kebijakan Nadiem Makarim

16 September 2024   15:07 Diperbarui: 16 September 2024   15:08 595
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Fenomena adanya siswa SMP yang masih belum bisa membaca dan menulis adalah salah satu indikator bahwa ada masalah serius dalam sistem pendidikan kita. Jika siswa yang belum menguasai kemampuan dasar tetap naik kelas tanpa penilaian yang tepat, ini bukan hanya merugikan siswa itu sendiri, tetapi juga masyarakat di masa depan.

Menteri Nadiem Makarim memang telah mengakui adanya krisis literasi dan numerasi di Indonesia. Survei internasional menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam bidang ini tertinggal dibandingkan negara-negara lain.

Di sinilah kebijakan "Merdeka Belajar" berusaha untuk memberikan solusi melalui pendekatan yang lebih fleksibel dan personalisasi proses belajar. Namun, kebijakan ini belum sepenuhnya mampu menjawab masalah mendasar terkait minimnya standar akademis dalam proses kenaikan kelas.

Sisi lain yang mesti dipertimbangkan juga, adalah guru-guru yang jauh dari pusat pemerintahan menjadi malas, mereka lebih banyak memberi tugas kepada anak didik, sementara mereka sendiri asyik bermain Ponsel.

Penghapusan Peringkat dan Dampaknya Terhadap Daya Saing

Selain kenaikan kelas otomatis, salah satu kebijakan yang juga menimbulkan kontroversi adalah penghapusan peringkat di sekolah. Di satu sisi, penghapusan peringkat bertujuan untuk mengurangi tekanan kompetitif yang berlebihan pada siswa.

Peringkat dianggap bisa menyebabkan stres dan kecemasan pada siswa, yang berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Dengan tidak adanya peringkat, diharapkan siswa dapat lebih fokus pada proses belajar itu sendiri daripada sekadar mengejar angka atau peringkat.

Padahal tidak semua siswa stress, hanya rata-rata mereka yang tidak mampu dan pemalas saja yang khawatir dengan hal ini. Sementara siswa-siswi yang terbiasa belajar di rumah dan di sekolah, bagi mereka biasa saja.

Di sisi lain, kritik terhadap penghapusan peringkat adalah bahwa hal ini dapat menurunkan daya saing siswa. Dalam masyarakat yang semakin kompetitif, kemampuan untuk bersaing secara sehat sangat penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja di masa depan.

Peringkat, dalam banyak kasus, berfungsi sebagai motivasi bagi siswa untuk berusaha lebih baik. Dengan dihapuskannya peringkat, ada kekhawatiran bahwa siswa menjadi lebih malas belajar karena tidak ada lagi tolok ukur yang jelas untuk prestasi mereka.

Membangun Sistem Pendidikan Berbasis Kompetensi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun