Apakah mungkin?
Sangat mungkin! Akan tetapi, semua bermula pada visi. Dengat target profit yang jelas, strategi berjualan bisa disiasati. Caranya? Berikan gratis satu porsi pada mereka yang membeli lima porsi sekaligus.
Yang penting, jaga rasa dan harga. Perlakukan konsumen dengan baik dan berikan bonus di waktu tertentu. Beri kesan berbeda saat membeli nasi uduk.Â
Dokumentasi Proses dan Standar Pelayanan
Masalah kedua yang sering tidak disadari adalah jarangnya pelaku bisnis merekam jejak bisnis. Sebagai contoh, berapa banyak usaha kuliner yang  tidak memiliki standar rasa dan waktu pelayanan.
Ini penting untuk dibangun saat bisnis baru dimulai. Dokumentasi proses berupa standar pelayanan konsumen, waktu pengerjaan, cara penanganan masalah mesti ada.
Jika sebuah bisnis ingin maju, segala aktivitas bisnis haruslah memiliki standar tetap yang baku dan mudah dipahami karyawan.
Bisnis kuliner harus punya standar masak yang bisa diikuti oleh koki, cara melayani pelanggan yang sama oleh setiap karyawan, dan waktu pelayanan yang terukur.Â
Sama halnya pada toko kelontong. Barang jenis apa yang terletak di bagian etalase tertentu, berapa lama kasir harus melayani pembeli sesuai banyaknya barang belanjaan, cara menyapa dan memberikan solusi pada pelanggan.Â
Semua ini penting untuk dibangun sejalan dengan visi. Bisnis yang mengenyampingkan dokumentasi proses biasanya redup seiring bergantinya tahun.
Cara menilainya sangat gampang. Biasanya bisnis kuliner tanpa proses tidak mampu menjaga rasa. Kadang rasanya pas, di lain hari terasa berbeda. Standar waktu penyajian makanan juga tidak sama, lama tidaknya bergantung pada bagian dapur.
Toko kelontong juga sama. Terkadang barang ada, tapi penjual tidak menghafal letaknya. Ada yang kehabisan barang dan tidak bisa memastikan kapan barang masuk lagi.Â