Dengan daya tarik yang demikianlah maka kampung tetap punya magnet untuk dikunjungi. Dengan datang ke kampung, para perantau merasa punya identitas diri dan dikampungnya ia merasa punya arti. Dalam perspektif yang demikian, pulang kampung juga merupakan sarana aktualisasi diri. Sering para perantau yang agak berduit ketika pulang kampung selalu membawa oleh oleh misalnya memberi satu kain pelekat untuk tiap keluarga dekat. Warga kampung yang diberi oleh-oleh itu merasa sangat senang dan menghargai pemberian itu.
Dengan berbagai alasan yang demikianlah para warga Mandailing yang ada di Jakarta sekurang kurangnya sekali dalam tiga tahun menggelar acara "mulak tu huta". Mereka patungan untuk menyewa bus. Mereka butuh waktu lebih dari empat puluh delapan jam naik bus untuk sampai di kampungnya di Mandailing, Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara.
Kalau dihitung dari jumlah uang untuk transport darat dan juga untuk oleh oleh yang akan dibawanya tentu membutuhkan dana sekitar tujuh jutaan per keluarga. Ketika ditanyakan kepada mereka apakah merasa letih di perjalanan apalagi mengeluarkan sejumlah uang, semuanya punya jawaban yang sama: tidak merasa lelah dan tidak merasa rugi dengan dana yang dikeluarkan. Kata mereka  ada kenikmatan tersendiri hari raya di kampung dan kenikmatan seperti itu berbeda dengan kenikmatan di Jakarta.
Selamat " Mulak Tu Huta"!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI