"Sudah waktunya harus ada buku sendiri," kata Mas Gong memberi keyakinan.
Saya sendiri sudah lupa jika harus menyebutkan buku apa saja yang tergabung dalam antologi kepenulisan selama ini. Meski belum ada novel, sebenarnya ada dua buku yang saya tulis tapi bukan karya komersil.
Tahun 2016 mendapat kesempatan belajar menulis ke Singapura. Buku "Tiga Cinta, Aku dan Ibu" menjadi buku pertama yang ditulis sendiri dan diterbitkan Gong Publishing bekerjasama Kemendikbud RI.Â
Lalu, tahun 2019 memenangkan lomba penulisan Buku Cerita Rakyat Banten dan penerbitan dibawah tanggungjawab Kantor Bahasa Banten.
Salut dengan para penulis yang mampu menulis novel. Perjuangan dan konsisten membutuhkan energi yang besar.
Sudah saatnya, menjawab tangangan Mas Gong, beliau tidak hanya sebagai guru, namun juga didapuk sebagai Duta Buku Indonesia, meneruskan perjuangan Najwa Sihab dan Andy F Noya.
"Berdaya dengan Buku" menjadi program yang akan dikerjakan sebagai Duta Baca Indonesia.
Saya adalah murid yang belajar banyak dengan Mas Gong, yakin jika program yang dibuat Mas Gong hasil dari renungan, akumulasi dari pengalaman, diskusi bersama penggiat literasi, dan perjuangan menebarkan semangat literasi ke penjuru  daerah di Indonesia.
Tak hanya menjawab tantangan menulis novel, juga harus mendukung perjuangan Duta Baca Indonesia.
Program "Berdaya dengan Buku" Duta Baca Indonesia, seperti kilas balik proses belajar menulis bersama Mas Gong. Kemampuan menulis ternyata mampu memberdayakan saya dan menjawab bahwa menjadi penulis pun bisa jadi profesi.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H