Mohon tunggu...
M. Ali Amiruddin
M. Ali Amiruddin Mohon Tunggu... Guru - Guru SLB Negeri Metro, Ingin berbagi cerita setiap hari, terus berkarya dan bekerja, karena itu adalah ibadah.

Warga negara biasa yang selalu belajar menjadi pembelajar. Guru Penggerak Angkatan 8 Kota Metro. Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Guru Pedalaman, Saatnya Guru Harus Belajar

14 November 2015   20:13 Diperbarui: 20 November 2015   20:13 406
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption caption="Portrait, Dari kiri ke kanan, Saya sendiri, pak Hendra, Guru di Bima, NTB, Pak Arif dari Kalimantan Selatan, dan Pak Aris dari Gorontalo. Bersama-sama mengikuti pembinaan karir bagu guru-guru daerah 4T3P yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 9 s.d 14 November 2015 di Hotel Grand Royal Panghegar Bandung, Jawa Barat"][/caption]
Sepekan yang lalu, tepatnya Senin s.d Sabtu, 9 - 14 November 2015 , kami para guru-guru yang mewakili daerah yang dikategorikan guru yang berasal dari daerah yang dikategorikan Terpencil, Tertinggal, Terisolir, Terluar perbatasan, Pulau-pulau Kecil, dan Pedalaman (4T3P) diundang oleh Kementrian Pendidikan Kebudayaan Melalui Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar diundang dalam kegiatan  Pembinaan Karir Sinergi Program Layanan Guru di Daerah 4T3P. Kegiatan Tersebut dilaksanakan di Hotel Grand Royal Panghegar Kota Bandung Provinsi Jawa Barat. 

Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk membeirkan pembinaan kepada guru-guru di daerah 4T3P tersebut agar para guru bisa meningkatkan profesionalismenya dalam dunia pendidikan, lebih khusus dalam pembelajarannya di kelas. Tentu saja, dengan pendidikan tersebut, semua guru bisa mendapatkan kesempatan memperoleh ilmu dari para instruktur yang memberikan materi sekaligus memandu para guru tersebut agar benar-benar bisa menyerap ilmu sesuai dengan kebutuhan mereka di daerah pedalaman.

Terang saja, dengan pembinaan tersebut, ada rasa syukur yang tak terhingga dari para peserta. Terlebih lagi para instruktur adalah para praktisi pendidikan serta para pendidik yang mendapatkan seabrek prestasi sebagai guru-guru berprestasi tingkat nasional. Para dosen dan tentu saja orang-orang yang telah kenyang dengan pengalaman tentang bagaimana mengelola sebuah kelas, sehingga kelas tersebut menjadi kelas yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan.

Dengan pembinaan ini, harapannya tidak ada lagi guru-guru di daerah pedalaman tersebut mengalami hambatan dalam proses pembelajarannya. Apalagi selama ini stigma yang seringkali didapatkan oleh guru-guru pedalaman adalah mereka tidak memiliki kemampuan dan lemahnya profesionalisme dalam bidang tugasnya. Meskipun pandangan negatif tersebut terbantahkan lantaran ada sosok guru dari Minahasa yang sukses menyelenggarakan pola pembelajaran yang kreatif tadi di daerah yang ditunjuk. Terang saja, prestasi dari guru tersebut tentulah menjadi catatan positif, bahwa stigma guru pedalaman merupakan guru yang tidak profesional adalah salah, lantaran keberadaan guru tersebut telah memberi warna bagi proses pendidikan di sekolahnya.

Selain pandangan miring bahwa guru pedalaman adalah guru yang lemah tentu, kegiatan ini semakin meneguhkan pandangan bahwa profesionalisme hakekatnya bukan hanya milik orang-orang kota dengan seabrek fasilitas yang memadai dan anak-anak yang cerdas, akan tetapi juga milik para guru yang tinggal di daerah terpencil sekalipun.

Namun sayang sekali, bakat-bakat yang terpendam serta segudang pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki para guru pedalaman itu acapkali berbenturan dengan kondisi medan juang mereka. Tak adanya fasilitas yang mencukupi, jarak perjalanan ke tempat tugas yang cukup jauh, akomodasi dan fasilitas transportasi yang juga amat memprihatinkan, menjadi salah satu pemicu mengapa program pendidikan di pedalaman menjadi tersendat-sendat bahkan terbilang fakum dan stagnan.

Bahkan tak hanya sulitnya medan tugas dan amat minimnya fasilitas yang dimiliki para guru dalam mengemban amanah Tuhan dan Pemerintah ini, karena demi mendapatkan gajinya setiap bulan saja sulit mereka dapatkan, lantaran sulitnya medan, jauhnya perjalanan, mahalnya biaya ke tempat pengambilan gaji lantaran memang biaya transportasi yang cukup mahal. Mereka harus menunggu hingga tiga bulan untuk mengambil gajinya agar ada sisa uang lebih. Alasannya kalau gaji itu diambil setiap bulan, maka otomatis gaji mereka tidaklah mencukupi.

Betapa gambaran yang cukup riil dialami oleh guru-guru di daerah yang tergolong daerah 4T3P tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Pak Hendra, salah satu guru SLB di Bima Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu tatkala kami bercakap-cakap terkait bagaimana tugas di daerah beliau.

Mendengar penjelasan betapa pedihnya perjuangan tersebut, dalam hati saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmatNya karena meskipun daerah kami dikategorikan daerah 4T3P, faktanya Lampung memiliki medan tugas yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi di daerah Bima tersebut.

Adapula yang berasal dari daerah Bontang Kalimantan Timur, adapula yang berasal dari daerah Kalimantan Barat, Selatan, Utara dan daerah-daerah lain di penjuru lain yang memiliki akses jalan yang teramat sulit untuk di tempuh. Bahkan berdasarkan penuturan mereka, untuk mencapai kota saja mereka harus menggunakan moda transportasi darat dengan akses perjalanan yang sulit, lantaran jalan-jalan yang rusak dan juga biaya yang mahal. Membutuhkan waktu 4 jam perjalanan untuk bisa menikmati ramainya perkotaan.

Itu jika kondisi jalan kering karena musim kemarau tiba, bagaimana jika kondisi musim penghujan seperti saat ini, tentu menjadi lebih buruk lagi.

Hebatnya mereka, meskipun daerah merek adalah daerah terpencil, ternyata semangat mereka tidak pernah pupus dan setia mengabdikan ilmunya demi nusa bangsa dan negara. Ingin membangun daerah pedalaman itu menjadi daerah yang setara dengan daerah lain di perkotaan.

Sedikitnya undangan yang hadir, dan sulitnya akses transportasi di daerah terpencil

Jika melihat banyaknya undangan yang dikirimkan oleh panitia semestinya yang hadir sejumlah 102 orang yang mewakili daerah-daerah 4T3P tersebut, namun faktanya hingga pembukaan dilaksanakan hanya separuh dari seluruh undangan yang hadir. Ketidak hadiran mereka lantaran ada di antara mereka yang karena sulitnya akses jalan, surat yang terlambat sampai, jalur transportasi yang tertutup sementara akibat bencana meletusnya gunung Rinjani yang berimbas pada daerah-daerah lain termasuk Bandara Ngurai Rai Denpasar Bali yang harus ditutup, lantaran dampak yang ditimbulkan dari semburan abu vulkanik tersebut. Seperti yang disampaikan pula oleh salah satu guru dari pedalaman Bali.

Tampak tubuh lelah dan raut wajah yang sedih lantaran ia harus menggunakan moda transportasi darat selama 4 hari demi bisa mencapai daerah Bandung demi panggilan tugas dari pemerintah ini. Namun demikian saya salut pada guru tersebut dan guru-guru lain yang tak lelah membangun semangat dan kemampuan mendidiknya dalam pelatihan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan ini.  Meskipun melalui perjalanan yang melelahkan, beliau tak menyerah begitu saja dengan keadaan, demi sebuah pengalaman yang berharga.

Selain dari kondisi perjalanan yang cukup merepotkan, ternyata sedikitnya undangan yang hadir adalah lantaran karena tepat di acara pembinaan karir sinergi tersebut, bertepatan dengan geliat UKG (Uji Kompetensi Guru) yang diadakan oleh pemerintah. Terang saja, akibat kegiatan tersebut, hampir separuh dari mereka enggan hadir lantaran khawatir tidak bisa mengikuti UKG tersebut, serta karena memang mereka mengganggap UKG lebih penting demi karir mereka, dibandingkan pelatihan yang diadakan bisa dilakukan di lain kesempatan. Meskipun di antara mereka yang terhalang hadir, ternyata ada juga yang dengan rekomendasi dinas setempat bisa mengikuti pelatihan dengan konsekunsi UKG diundur di lain kesempatan.

Bekerjasama dengan sekolah-sekolah terbaik di Bandung, menggali ilmu dan berbagi pengalaman

Seperti pada tahap pengembangan profesionalisme guru dalam pembelajaran, panitia menjadwalkan kegiatan kunjungan dan observasi pada sekolah-sekolah mitra yang ditunjuk oleh panitia. Sekolah-sekolah mitra tersebut adalah sekolah-sekolah yang berprestasi dan telah meraup aneka juara dalam berbagai perlombaan. Harapannya, dengan jalinan mitra tersebut, guru-guru yang menggali ilmu itu dapat menambah pengalaman dan pengetahuan mereka secara lebih baik. Atau boleh jadi justru pengalaman yang diperoleh di kampung halamannya bisa bermanfaat bagi sekolah mitra tersebut. Ada aspek manfaat yang diperoleh keduanya. 

[caption caption="Portrait, Salah satu guru SLB Purnama Asih, Ibu Atik yang tengah menunjukkan salah satu bunga hasil karya anak-anak ABK (doc. pribadi)"]

[/caption]

Selain dalam bidang pembelajaran, para guru tersebut dapat meraih ilmu tentang manajemen sekolah, tata laksana sekolah mencakup sarana dan prasarana yang mesti dimiliki serta kiat-kiat mengembangkan aneka keterampilan yang dimiliki, agar selanjutnya bisa dikembangkan di sekolah masing-masing.

[caption caption="Portrait, Saya dan Kepala SLB Purnama Asih Bapak Amit Juwardi, SPd, MM serta sahabat-sahabat sesama peserta pelatihan saat berada di sederet Bendera Anggota Konfrensi Asia Afrika, di museim Konfrensi Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat"]

[/caption]

Seperti saya dan ketiga sahabat sesama guru dari sekolah luar biasa, kebetulan ditugaskan observasi dan praktik mengajar di SLB Purnama Asih Bandung Barat. Dengan harapan kelebihan yang dimiliki sekolah ini bisa dikembangkan di sekolah kami dan harapannya dengan bertukar pengalaman itu, sekolah-sekolah yang dikategorikan sekolah pedalaman tersebut bisa berkembang, tumbuh dan maju setara dengan sekolah-sekolah lain di kota.

Salam

Metro, Lampung, 14-11-2015

 

Baca juga tulisan ane yg lain ya bro...

http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/ke-mana-nasib-para-guru-pasca-ukg_564e925bf67a610d05320d11

http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/gara-gara-pelatihan-bisa-kopdaran-sama-kompasianer_5648662d7993738d07cabece

http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/mencari-pasangan-cantik-ganteng-itu-banyak-yang-mengerti-itu-sedikit_564ab3bd747e61570685f681

 

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun