Mohon tunggu...
Ahmad Hairudin
Ahmad Hairudin Mohon Tunggu... -

keingingan adalah sumber penderitaan.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Surat dari Ibu

27 Januari 2017   01:30 Diperbarui: 27 Januari 2017   01:53 194
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Nak, pulanglah sejenak, aku teramat rindu padamu. 

Nasi dipiringku selalu kusisahkan untukmu, berharap engkau mendekat dan memintanya, 

walau akupun tau kita makan bersama-sama. 

Nak, aku sekarang tak lagi sekuat dahulu, yang bisa menggendongmu, 

mengajakmu jalan-jalan, atau hanya sekedar menungguimu ketika petang memaksamu larut dalam mimpi-mimpi.

Aku lihat kau tersenyum dalam tidur, tentu kau bermimpi tentangkukan, nak? 

Aku mulai merasa perahu yang ku tumpangi sudah lama tak menepi, 

selat yang kubayangkan kini menjadi samudra yang membelah bumi

jauh nak. 

Bantulah aku untuk menepi, 

selesaikan apa yang sudah kamu mulai, lalu datanglah kemarai,

pegang gayung ini dan aku akan menyanyikan lagu-lagu kesukaan mu, 

seperti biasanya kita usir malam dengan bernyanyi dibawah tilam.

 

Nak, tolong jangan kau lupakan namaku ketika kau bertemu dengan ALLAH,

karena hanya salam itu yang sampai dihati ketika sepi.

Nak, taukah kamu, aku sangat merindukanmu. 

Apa kau tak mau melihat, kulit di pelipis mataku mulai melipat, tersimpan namamu diselah-selahnya, 

kaki ku memang tak berubah, masih gemuk, 

Namun tulang-tulangku sudah mulai nyilu bila malam hari.

aku rindu kau pijit kakiku sambil kau tembangkan sahadat-sahadat Rosul sebagi mantranya.

 

Oya, bapakmu sudah tiga hari ini terbaring di rumah sakit, dia selalu mengigau tentang dirimu. 

Setiap selesai minum obat, dia selalu menyuruhku menulis surat untukmu,

Namun aku selalu menolak, aku takut menjadi beban bagimu. 

Dan adikmu "Aulia" dia selalu menceritakan tentangmu pada teman-temanya. 

ia sangat bangga memiliki kakak sepertimu, ia sangat senang bercerita saat kau memberikan boneka panda padanya, 

dan saat kau mengajarinya matematika dan ilmu alam. 

Kini dia sedang menulis surat untukmu lagi, mungkin esok akan dikirimnya untukmu.

 

bila ada waktu luang, 

ibu mohon pulang sejenak anakku. 

berilah sedikit bahagiamu disana, dan bagikan pada kami, 

agar sepi ini sedikit hilang dengan hadirmu.

 

teruntuk anak ku yang terkasih,........................

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun