Apalagi jika mengingat masyarakat Indonesia adalah masyarakat paling sadar merek di dunia. Jika sudah fanatik pada merek tertentu sulit akan berpaling. Bagaimana jika satu saat nanti masyarakat sudah terlanjur fanatik dengan Moblis Jepang, Eropa, Amerika atau China?
Apa mereka ingin mengulang kembali sejarah Indonesia yang tertinggal memproduksi mobil BBM. Akhirnya hanya bisa menjadi konsumen. Bahkan tertinggal dari Malaysia yang dikatakan tidak jago-jago amat membuat mobil. Telah berhasil membuat warganya bangga menggunakan mobil nasional, Proton. Di jual di Indonesia pula.
Menyesal. Ingin mengejar tapi orang sudah berlari terlalu jauh, hampir sampai finish. Haruskah 5, 10, atau 20 tahun lagi Indonesia hanya mampu menyesal untuk kedua kalinya?
Pernyataan kepala BPPT ini saya rasa sama konyolnya dengan pernyataan Jaksa Turin yang mengatakan Moblis tidak lulus uji emisi.
Saya teringat apa yang dikatakan Wapres Jusuf Kalla saat memberikan pengarahan di kantor Bappenas hari Rabu kemarin.
Wapres menyatakan banyak lembaga negara yang kurang berfungsi, alias nganggur. Dan yang paling nganggur itu BPPT. Padahal diisi oleh para akademisi hebat. Banyak doktor, kantor sepi. Kalaupun ke kantor hanya baca koran. *LBS*
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H