Apakah kunci hati Bunda Manda telah berpindah ke tangan Nanda?
Masih bisakah kesalahannya dimaafkan?
Apakah seorang pria yang meninggalkan istri dan putrinya selama tujuh tahun layak mendapat kata maaf?
Rentetan pertanyaan itu terus menghantui Ayah Calvin sampai di depan kelas Silvi. Namun, ia tak lupa mengecup sayang kening putri tunggalnya. Diamatinya Silvi hingga bocah cantik itu duduk manis di bangkunya. Bangku yang ia tempati sendiri. Silvi tak punya teman sebangku.
"Pak Calvin, Anda masih di sini?"
Teguran wali kelas sebelah mengagetkan pria berjas blue itu. Si guru senior berhijab putih tersenyum keibuan.
"Anda perhatian sekali pada Silvi." Guru itu berkomentar.
Tentu saja dia care. Ayah Calvin kan ayah kandung Silvi.
Bel masuk berdentang. Pelajaran Kesenian dimulai. Anak-anak diminta membuat kelompok. Sedihnya, tidak ada yang mau sekelompok dengan Silvi. Alhasil anak bermata biru itu mengerjakan tugasnya sendiri.
Pedih hati Ayah Calvin menyaksikan itu. Perlukah ia memindahkan putrinya dari sini? Sekolah ini bukan tempat yang layak bagi Silvi untuk bertumbuh.
** Â Â