"Enak?"
"Biasa aja."
Raissa menggigit bibir. Terbiasa dengan jawaban tak memuaskan dan sikap ignorant lelakinya.
"Kalau tidak enak, kenapa kamu masih datang tiap akhir pekan untuk menikmatinya?"
"Nah, itu kamu tahu sendiri jawabannya. Sudah tidak perlu tanya, kan?"
Benar-benar menyebalkan. Terbuat dari apa hati pria sibuk ini? Makin besar dorongan di hati Raissa untuk menguji ingatan Adica.
"Adica, ini hari apa?" ujar perempuan itu waswas.
"Aku jadi heran," Alih-alih menjawab, Adica malah mengalihkan pembicaraan. Cangkir porselen berdenting kasar di meja kaca.
"Waktu kecil cita-citamu jadi polisi ya? Atau wartawan?"
Apa-apaan pria ini? Dia menanyakan sesuatu yang sangat tidak penting. Alis Raissa terangkat tinggi.
"Heran, dari tadi kamu tanya aku terus. Seperti diinterogasi." Tukas Adica lelah, melayangkan tatapan ke langit berselimut kabut di luar jendela.