"Wleeek...mumpung Ayah nggak liat," kataku pelan sambil menjulurkan lidah.
"Trus kenapa kalau Ayah nggak liat? Hm?"
Di luar dugaan, Ayah menolehkan kepala padaku dan meraih jemariku. Dicengkeramnya tanganku erat. Didekapnya aku hingga aku tak bisa bergerak. Tubuh Ayah tiga kali lebih tinggi dan berat dariku. Mudah baginya menahanku.
"Princess kok melukai diri? Bandel," kecamnya lembut.
Aku kesulitan bergerak dalam dekapan Ayah. Ayah berniat sekali mengurungku dalam rengkuhannya. Tak sengaja lenganku menyenggol jatuh gelas minuman Ayah. Anehnya, Ayah tenang saja memungut minumannya yang jatuh dan menyesapnya lagi. Ayah bahkan tidak marah padaku.
Lama kami duduk menanti. Jam karet lagi-lagi berlaku. Beberapa saat setelah menghabiskan minumannya, Ayah bangkit berdiri meninggalkanku. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya.
Aku termenung memandangi punggung Ayah. Kugigit bibir bawahku. Hatiku biru.
Tetiba seorang wanita berkacamata berbaju kuning menghampiriku. Ia duduk di sampingku, memeluk pundakku, dan menyapaku lembut.
"Tante Asyifa?" desisku tak percaya. Kukira wanita ini menemani Papa.
"Papamu memintaku menjagamu, Sayangku. Dimana Ayah?"
"Pergi sebentar. Entah kemana."