Mohon tunggu...
Latifah Maurinta
Latifah Maurinta Mohon Tunggu... Novelis - Penulis Novel

Nominee best fiction Kompasiana Awards 2019. 9 September 1997. Novel, modeling, music, medical, and psychology. Penyuka green tea dan white lily. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @Maurinta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Malaikat, Lily, Cattleya] ART Paling Beruntung

17 September 2019   06:00 Diperbarui: 17 September 2019   06:56 371
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

ART Paling Beruntung

Di rumah mewah bertingkat tiga ini, saya mengenal Tuan Calvin. Orangnya kasep, plus bageur pisan. Dia teh majikan saya yang paling baik.

Lima belas tahun jadi asisten rumah tangga, saya paling betah kerja di rumah Tuan Calvin. Rumahnya paling besar dibanding rumah majikan-majikan saya sebelumnya. Saya dikasih kamar yang lumayan nyaman di sini. Kasurnya empuk, ada TV sama kipas anginnya. Tuan Calvin nggak pernah lupa beliin brownies, martabak, donat, dan puding buat saya kalo beliau pergi agak lama.


Awal-awal kerja di sini, saya dapat kamar sempit dan pengap dari Nyonya Sivia. Kamar itu teh banyak pisan debunya. Saya jadi sering batuk-batuk dan pilek atuh. Pas Tuan Calvin tahu kamar saya terlalu sempit, dia bilang gini ke saya.

"Minah, kamu pindah ke kamar di sebelahnya ya. Mulai nanti malam, jangan tidur di sini lagi. Ini bekas gudang...maaf ya, saya baru tahu."

Saya seneng pisan dapat kamar baru. Lebih luasan dikit dari kamar bekas gudang itu. Langsung deh saya angkut barang-barang yang cuma seumprit itu ke kamar baru.

Selama di sini, nggak pernah tuh Tuan Calvin bentak-bentak saya. Ngomongnya lembuuut pisan. Pernah saya masak sup keasinan. Nyonya Sivia teriak-teriak, eh si Tuan senyum aja.

"Lain kali jangan melamun kalau masak ya, Minah." Gitu katanya.

Saya sih manggut aja. Nyengir malu, trus ngacir ke dapur. Malu atuh.

Satu malam, saya habis menghidangkan daging panggang dan tart karamel di meja makan. Tuan Calvin dan Nyonya Sivia siap-siap buat makan malam. Nggak tau kenapa, waktu itu tumben-tumbennya Nyonya Sivia nggak pulang telat. Pas saya mau balik ke dapur, Tuan Calvin nahan tangan saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun