"Oh, satu di antara mereka sudah keluar dari bandara..."
Mulailah Syifa bercerita dengan antusias. Ayah Calvin tak jemu mendengarkan. Ia perhatikan Syifa lekat-lekat.
"Kau bersemangat sekali menceritakan mereka. Nyaris lupa dengan dirimu sendiri. Sudah lama juga kau tidak ngeblog dan membuat kurasi. Iya kan?" Ayah Calvin menyentil Syifa dengan ucapannya.
"Aku masih sibuk, Kak. Saat ini belum bisa kurasi..." Syifa berdalih, sedikit resah.
"Mana Syifa adikku yang berbakat kurasi? Yang kritis, brilian, dan detail."
"Kakak sendiri bagaimana? Tidak lupa minum obat antikoagulan, kan? Dan rencana pernikahan dengan Alea..."
Pandai sekali Syifa membelokkan pembicaraan. Teringat Bunda Alea, wajah Ayah Calvin berubah sendu.
"Keluarga Alea tidak menyukaiku. Aku sakit. Mereka..."
"Tidak, Kakak harus pertahankan Alea. Dan Kakak pasti sehat terus. Banyak yang berharap Kakak berumur panjang, termasuk aku. Jose butuh Kakak." potong Syifa cemas, cemas sekali.
Belum sempat Ayah Calvin menanggapi, terdengar denting piano. Mereka berdua melirik ke panggung.
"Kau pasti kenal siapa yang main piano," tunjuk Ayah Calvin ke satu titik.