Jawa timur memang dikenal dengan keindahan dan keunikan serta jajakan panorama wisata yang sangat banyak. Mulai dari banyaknya candi-candi, taman dan makam, adapun wisata kuliner dan wisata alam lainnya. Saya ingin bercerita tentang salah satu tempat wisata dan ziarah yang ada di Jawa Timur. Tempat ini adalah Gua Maria Puhsarang, yang berlokasi di lereng gunung Wilis, desa Puhsarang, kelurahan Semen, kecamatan Semen, kabupaten Kediri.
Sebenarnya saya ingin menulisnya tadi malam, karena lelah dan letih kian membumbui jadinya saya langsung merehatkan badan. Tapi hari ini saya akan menceritakan kepada kalian dengan tujuan menyampaikan informasi keberadaan tempat ini, karena sangat sedikit media yang mengekspos Gua Maria Puhsarang ini. Selamat membaca! Â Â
Beragkat dari Malang ke Kediri
Pada pagi hari kemarin sekitar pukul sepuluh kurang, saya dan teman-teman sedang bersiap-siap berpergian ke kota Kediri dengan tujuan ingin berziarah dan berdo'a disana.Â
Kami berjumlah tujuh orang, ada Anggi, Enjel, Helmin, Lovin, dan dua yang lainnya saya lupa namanya, bukannya saya tidak mengapresiasi nama teman, tapi memang kami tidak sempat berkenalan. Tapi gapapa kita lanjut saja.Â
Mendekati jam sepuluh kami mulai berangkat dari Tlogo Mas menuju ke arah kota Batu. Sepanjang perjalanan kami sangat bersemangat, mulai dari Helmin yang bercerita tentang ketidakwarasan teman-temannya kemudian disambungkan lagi sama lovin sahabatnya.
Dari arah Tlogo mas sampai Sengkaling perjalanan terpantau sangat lancar. Namun, ketika sampai di Sengkaling (jl. Dadaprejo) menuju ke pertigaan arah Karangploso, nuansa kemacetan sudah tercium, tak lama kami pun membaur dengan beberapa mobil truck yang masuk pada jajaran kemacetan liuk sesaat.
Hingga memasuki kawasan kota Batu kami masih bersemangat. Di kota Batu juga terpantau macet apalagi  di bundaran kecil depan museum angkot ke arah kanan, lumayan padat macetnya.
Setelah hampir satu jam macet di Batu, akhirnya kami merasa lega setelah melihat perempatan lurus ke arah Gunung Panderman, tapi kami mengarah ke arah kanan jalan Hasanudin. Kemudian membelok ke kiri jalan Turnojoyo. Nah, putar-putar kotanya sudah selesai tinggal lurus aja ke Jalan Rajak Wesi hingga ke arah Paralayang dan Pujon.
Dalam perjalanan  kami ditemani lagu-lagu ambon dan lagu hip-hop dari Indonesia Timur. Ya, siapa lagi kalau bukan Mitha Talahatu, Justy Aldrin, Toton Caribo dan Kapten Purek dengan lagu galaunya. Seisi mobil berkaraoke dan kelihatan sangat bersemangat. Dan adapun yang ketiduran yang satu karena ngantuk dan satunya karena pusing.
Sampai di kota Kediri dengan Bahagia
Setelah hampir dua jam lebih dari Malang, akhirnya gapura kabupaten Kediri menyambut kami dengan penuh kedamaian dan penuh akumulasi. Iyayaya, karena kediri dikenal dengan kota Industri dan perdagangan, salah satunya PT.Gudang Garam yang ada di kota Kediri.
Saya memulai membuka handphone untuk mencari lokasi tujuan kami. Ternyata tujuan kami tidak berada dalam kota melainkan di pedesaan. Kalau dilihat sangat dekat ke Surabaya dan Blitar. Iya, namanya juga kota tetangga.
Tidak hanya gapuranya aja yang gemilang, tapi monumen Simpang Lima Gumul juga sangat bersemangat menyambut kami dengan segala puing estetikanya. Sangat keren.
Tapi kami hanya membuat janji sementara ketika melihat simpang lima gumul itu, bahwa nanti kami akan balik kesini suusai pulang dari ziarah.
Hampir setengah jam kami beriringan dengan kendaraan lain, akhirnya kami sampai di desa Puhsarang. Tempatnya bisa dibilang di pelosok desa. Jalannya sangat kecil tapi untuk dua mobil kecil yang berpapasan masih bisa. Saya memikirkan bagaiamana jika ada dua Truck yang saling berpapasan di jalan ini? Tapi sudahlah biarkan pemerintah kabupaten Kediri yang memikirkannya. Itukan tugas mereka.
Kawasan Lourdes Puhsarang dengan beragam kisahnya
Memasuki area Gua ini kita diarahkan ke parkiran bagi yang membawa kendaraan. Disebelah kanan jalan sebelum masuk gapura kampung ada semacam pos jaga  dengan petugas parkir yang akan mengarahkan kita. Saya memilih parkiran paling bawah depannya Warung Rahayu. Lebih tepatnya di belakang TKK Yohanes Gabriel desa Puhsarang. Tempat parkirnya berada di halaman rumah yang didampingi tiga pohon, yang lumayan sih buat meneduhkan kendaraan.
 Sebelum menelusuri kawasan Gua salah seorang kawan mengajak untuk makan terlebih dahulu sebelum berziarah.
"Karena nanti kita pasti lama di dalam , jadi kita makan dulu aja,"kata Anggi.
Kami sempat kebingungan mencari tempat yang pas untuk bersantai sambil menyantap makan siang. Tapi saya mengajak mereka untuk bersantai di Warung Rahayu yang sedang tutup. Kami sudah mencoba memanggil berulang kali, tapi tidak ada yang menyahut terutama pemilik warung itu. Tapi gapapa saya dan kawan-kawan memohon maaf, kami tidak merusak apapun barang dalam warung itu, dan kami hanya meminjam tempat untuk duduk dan makan. Terima kasih Warung Rahayu.
Selesai makan siang, kami langsung membersihkan dan membereskan semuanya seperti semula dan langsung menuju ke dalam Gua Maria Puhsarang.
Saya melihat kawasan ini hampir mirip dengan yang ada di Makam Bung Karno di kota Blitar. Perbedaannya adalah di Gua Maria ini banyak orang berjualan waktu kita mau masuk ke dalam kawasan Gua, berbeda dengan makam Bung Karno yang berjualan waktu kita mau keluar dari dalam makam. Tapi unik sih karena setiap daerah punya strukturalisnya masingg-masing  dalam membangun ekonomi daerahnya. Sepanjang jalan masuk, kita bisa melihat ada orang yang menjual lilin,kontas (rosario), patung (kayu dan plastik) serta banyak juga manik-manik kudus lainnya, seperti kalung, gelang botol, dan patung.
Nah botol dan galon yang dijual dikawasan ini ada manfaatnya loh, botol ini kita beli untuk mengisi air suci yang ada dalam kawasan Gua, jika kita lupa membawa botol dari rumah kita bisa membelinya disana. Harganya beragam ya, tapi kami membeli yang kecil seharga dua belas ribu.
Disebelah tempat pengambilan air suci ini, ada juga tempat untuk membasuh tangan, wajah, dan kaki sebelum berdo'a. Tempatnya sangat sejuk karena rindangnya pepohonan yang membuat suasana terasa adem. Tepat didepan tangga sebelum ke tempat air suci ini saya melihat ada sebuah tulisan di Tugu Batu. Bahwasannya komplek ziarah umat katholik di Puhsarang ini diresmikan pada tanggal 26 Desember 1999 oleh bupati KDH TK Kediri (H. Suparyadi, S.IP. MM).
Dalam kawasan ini juga ada Mausoleum, Pendopo, Gereja, Pos Informasi dan Penginapan. Tempat parkir dan toilet selalu dijaga kebersihannya, sehingga membuat para peziarah sangat nyaman. Ketika kita ingin berdo'a di depan Patung Maria, kita bisa menyalakan lilin dibawah patungnya. Sebagai cahaya untuk menerangi jalan kita kepada sang Bunda.
Cerita Ibu Tuti mantan penjaga Gua Puhsarang
Ketika kami sedang mengambil air suci disana, kami bertemu dengan salah satu warga Puhsarang, namanya ibu Tuti. Dia adalah seorang katholik yang konon bekerja sebagai penjaga dan ikut membantu para pastor dan romo dalam menjalankan ibadah mulai dari jalan salib hingga misa mingguan.
Saya bertanya tentang dari daerah mana saja para penjual manik-manik yang ada di sepanjang jalan masuk tadi. Ibu Tuti menjawabnya dengan nada tenang, bahwa semua pedagang disekitaran Gua itu adalah warga asli Puhsarang. Mereka ada yang Katholik dan ada yang muslim. Tapi kebanyakan yang Muslim. Karena desa Puhsarang bermayoritas muslim.
Disamping itu, ibu Tuti bercerita tentang sejarah keberadaan gereja. Gereja yang ada di sekitar Gua ini, didirikan oleh Romo Jan Wolters CM yang dibantu oleh arsitek terkenal pada waktu itu yang bernama Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1936. Mereka berdua ini sangat mencintai Jawa dan kebudayaannya. Dalam sejarah Kerajaan Majapahit bahwa Maclaine Pont adalah salah satu arsitek yang menangani pembangunan museum Trowulan yang ada di Mojokerto.
Ibu Tuti bilang bahwa semua warga desa Puhsarang mengambil air dari Gua itu demi melangsungkan hidup karena di Gua itulah tempat mata air yang sangat besar dan kejernihan airnya sudah teruji melalui penyulingan yang dilakukan warga sekitar. Warga membedakan air di desa ini dengan air isi ulang segalon. Perbedaannya adalah air yang ada dalam galon jika dibiarkan selama sebulan, pasti akan ada bakteri dan ulat-ulat kecilnya, beda halnya dengan mata air di desa ini. yang tidak akan mengeluarkan ulat-ulat semacam itu, kenang ibu Tuti.
Namun, hingga saat ini Gua Lourdes Maria ini sudah beberapa kali direnovasi karena cuaca dan iklim. Tapi keindahan dan keteduhannya sangat bersahaja. Mudah-mudahan bisa kesini lagi, Amin.
Setelah hampir 3 jam di kawasan Gua kami pun pulang ke tempat parkir dan mulai kembali ke kota Malang.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI