Mohon tunggu...
Kompasiana News
Kompasiana News Mohon Tunggu... Editor - Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana: Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Tanaman Hias kembali Jadi Tren, Akankah Banyak yang Ikut Berkebun di Rumah?

6 September 2020   04:25 Diperbarui: 6 September 2020   05:47 992
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi berkebun di rumah. (sumber: pixabay/rawpixel. via kompas.com)

Belum selesai tren bersepeda, muncul hobi baru yang tak kalah menguras kantong: menanam tanaman hias.

Berbagai penelitian telah menyatakan bahwa tanaman dapat membantu menurunkan stres, gangguan kecemasan, dan juga dapat meningkatkan siklus tidur yang baik.

Akan tetapi untuk yang satu ini harganya cukup fantastis, dijual mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Janda Bolong, nama tanaman tersebut.

Tanaman janda bolong ini juga membuat ruangan lebih segar dan berwarna. Keunggulan lainnya yakni cara perawatannya yang relatif mudah: siram 2-3 kali seminggu jika ditempatkan di dalam ruangan dan 2 kali sehari jika ditaruh di luar ruangan.

Selain menanam tanaman hias yang kini jadi tren baru, masih ada konten lainnya seperti penggunaan kata "Anjay" hingga kerennya bemo di Flores.

Inilah 5 konten menarik dan terpopuler di Kompasiana dalam sepekan.

1. "Janda Bolong", Tanaman Hias yang Harganya Melampaui Seli Brompton dan Tarif Prostitusi Online

Ini adalah nama populer dari tanaman hias yang punya nama Latin, Monstera adansonii variegata, dan baru-baru ini laku terjual seharga puluhan hingga ratusan juta rupiah, kisaran Rp 95 juta - Rp 100 juta.

Akan tetepi ini bukanlah hal baru. Dulu, tulis Kompasianer Muis Sunarya, sempat juga ada tanaman hias yang populer: tanaman gelombang cinta.

"Hebohlah dunia usaha tanaman hias. Orang-orang berlomba-lomba berburu, menjual, dan membudidayakan tanaman hias yang satu ini," tulisnya.

Daun tanaman Janda Bolong ini tidak terlalu besar dan memiliki kombinasi warna: hijau, putih dan kuning. (Baca selengkapnya)

2. Swafoto dan Unggah Status, "Narcissistic Personality" atau "Self Branding"?

Pada era ini, manusia mempunyai kebutuhan beraktualisasi. Namun, tulis Ayu Diahastuti mengingatkan, kebutuhan untuk memaksimalkan potensi diri karena semua kebutuhan di atas telah terpenuhi.

Ya, narsis jadi kata yang tidak asing lagi dalam dunia media sosial. Terlebih kesempatan dan kecenderungan seseorang untuk berswafoto kemudian mengunggahnya amat besar.

"Motivasi yang mendasari pergeseran kebutuhan seseorang dari hanya menampilkan potensi diri menjadi kebutuhan untuk mendapatkan pujian atau jempol "like" inilah yang kemudian bisa dikatakan sebagai narcissistic personality disorder (NPD)," lanjutnya.

Nah, hal ini kemudian berlanjut kepada kebutuhan lain, yaitu self branding yang kita lakukan dan buat melalui media sosial. (Baca selengkapnya)

3. Selain "Anjay", 4 Kata Ini Seharusnya Juga Dilarang Komnas PA

Ramai dan jadi tren, barangkali, itulah yang masih diperbincangkan warganet mengenai kata "Anjay".

Beragam ekspresi dan perbincangan atas pelarangan kata "Anjay" terus memantik diskusi.

Pasalnya menurut Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, larangan penggunaan istilah "anjay" dalam konteks merendahkan martabat, melecehkan.

Namun, ada yang tidak kalah pentingnya bagi Kompasianer Sri Wangadi atas kata-kata yang menurutnya juga mesti dilarang oleh Komnas PA.

"So, daripada fokus ngurusin istilah "anjay", justru  empa kata ini lebih pantas dilarang penggunaannya karena  berpotensi menyakiti orang lain," tulisnya. (Baca selengkapnya)

4. Kita yang Bekerja Lebih Banyak Duduk, Memang Harus Waspada

Selain bahaya dari menatap komputer terlalu lama, ternyata bekerja sembari duduk dalam waktu lama juga memiliki risiko kesehatan yang tinggi.

Hal ini pasti erat kaitannya dengan kebiasaan penulis seperti Kompasianer Hadi Santoso ini.

Untuk mengingatkan kepada rekan sesama penulis, ia berharap pekerjaannya tidak membawanya justru pada penyakit yang tidak diinginkan.

"Beberapa cara ini sudah saya terapkan selama bekerja menulis. Utamanya ketika mulai lebih banyak menulis di depan laptop ketimbang mencari bahan tulisan dan melakukan wawancara di lokasi on the spot seperti dulu," tulisnya. (Baca selengkapnya)

5. Hal Inilah yang Membuat Bemo di Flores Keren Mama Sayang e

Pada tulisannya kali ini, Kompasianer Reba Lomeh mengajak kita untuk mengetahui hal-hal menarik seputar bemo di Flores.

Jika di Flores bemo itu digunakan untuk sebutan angkot, akan tetapi sudah mengalami beberapa modifikasi.

Umumnya bemo-bemo di Flores dilengkapi dengan peralatan musik yang lengkap, mulai dari parametik, bassfire hingga power amplifier.

"Dengan peralatan sound system yang memadai tersebut, biasanya menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpang, kkhusus di tengah kalangan muda-mudi," lanjutnya. (Baca selengkapnya)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun