Pada artikel Horton dan Wohl yang diberi judul "Mass Communication and Parasocial Interaction: Observations on Intimacy at a distance,"Â mereka menyebutkan jika penyebab utama hubungan para sosial berasal dari persona sosok tertentu melalui pemberitaan. Baik melalui media maupun "bisik-bisik tetangga."
Thus, hubungan imajiner pun terbentuk secara sepihak antara individu dan sosok yang dikaguminya.
Hubungan parasosial sebenarnya adalah simtom yang cukup umum. Bukankah industri hiburan diciptakan agar sosok selebriti memiliki penggemar. Selain itu, manusia juga adalah mahluk sosial. Wajar jika memilih tokoh panutan yang bisa dijadikan role model.
Lalu apakah perilaku ini baik atau justru membawa dampak buruk?
Sebuah studi pada Mei 2021 mengatakan jika pandemi Covid-19 meningkatkan terjadinya hubungan parasosial. Pembatasan sosial menyebabkan semakin banyak orang mencari pertemanan di internet.
Sosok publik pun tidak luput dari pemberitaan media sosial. Semua dimaksudkan agar mereka bisa tetap terkoneksi dengan para penggemar mereka.
Alhasil hubungan sosial pun beralih ke dunia maya. Tujuannya untuk mengusir rasa kesepian yang terjadi selama pembatasan sosial.
Sah saja, karena para ahli juga menyatakan demikian. Tidak buruk sebebanrnya, apalagi jika hubungan parasosial dapat meningkatkan self esteem seseorang. Mencontohi hal-hal positif dari idolanya dan meraih kesuksesan dari sana.
Sayangnya jika seseorang menjadi terlalu nyaman, ia akan terjebak dalam hubungan yang tidak nyata tersebut. Terutama bagi mereka yang menganggap jika dunia maya adalah yang nyata. Syahdan hubungan parasosial pun berubah menjadi hubungan yang tidak sehat.
Erotomania
Kembali kepada kasus ENS. Jelas kasusnya adalah salah satu contoh hubungan parasosial yang tidak sehat.
Dalam dunia kedokteran Erotomania merujuk kepada seseorang yang mengalami delusi bahwa sosok terkenal mencintainya. Dalam tahap yang serius, si penderita bukan hanya meyakininya.