Hal ini yang membuat Hario ragu untuk kembali ke Indonesia. Ia takut menjadi korban politik seperti beberapa jenderal lainnya yang dituduh PKI.
Berada dalam kondisi tanpa negara, nasib Hario Kecik dan keluarganya terombang-ambing. Untungnya mereka berada di bawah perlindungan Komite Internasional Palang Merah.
Untuk menghidupi keluarga, Hario bekerja menjadi peneliti di Akademi Sains Uni-soviet.
Pada pertengahan 1970an, Menteri Luar Negeri Adam Malik berkunjung ke Moscow. Tujuannya untuk bernegosiasi mengenai pembayaran utang Indonesia ke Soviet.
Adam Malik pun berkeinginan untuk bertemu dengan Hario. Mereka akhirnya bertemu di kantor kedutaan besar. Hubungan keduanya terasa akrab. Mereka telah berkawan lama. Â Â
Sambutan Adam Malik pun terkesan ramah. Sebagai seorang sahabat lama yang membawa pesan dari Presiden Soeharto.
"Soeharto hanya ingin memastikan, apakah kamu tidak tersangkut masalah politik?" Tanya Adam Malik.
Hario hanya menjawab polos. Bahwa ia hanya khwatir tentang masa depan pendidikan anaknya. Adam Malik pun balik bertanya; "Mengapa kamu tidak menyekolahkan anakmu di Eropa?"
Hario menjawab, "saya tidak punya dana untuk itu. Namun, jika pemerintah berani menjamin sekolah anak-anak saya bersekolah di mana saja, Amerika atau Eropa, maka saya akan pulang bersama Bung."
Adam Malik hanya tertawa dan bersikap santai, padahal orang-orang di sekitarnya sudah gelisah.
**