Imran cukup percaya diri karena didukung oleh beberapa ulama yang sepaham dengannya. Terlebih setelah para alumni Jemaah yang ia bentuk di Arab Saudi juga telah pulang kampung. Terutama Mahrizal, tangan kanannya. Â
Sejak saat itu gerakan militansi Jemaah Imran cukup terkenal. Mereka gencar menyerang kebijakan pemerintah yang dinilai "menindas islam."
Di masa pemerintahan Soeharto tidak ada satu pun organisasi ekstrim yang dibiarkan tumbuh subur. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh kelompok  Jemaah Imran cenderung mendapat tekanan dari pihak kepolisian.
Mereka menjadi semakin agresif dan ekstrim. Puncaknya pada saat beberapa anggota Jemaah Imran menyerbu Kosekta 8606 Pasir Kaliki, Cicendo.
Penyerbuan yang terjadi dua minggu sebelum peristiwa pembajakan Woyla tersebut menewaskan tiga anggota polisi, seorang luka-luka. Beberapa pucuk senjata juga raib.
Dalam laporannya kepada DPR pada tanggal 13 Mei 1981, Kopkamtib menjelaskan bahwa tujuan besar Jemaah Imran adalah "mendirikan negara Islam dengan menggulingkan Pemerintahan Soeharto."
Wendy bin Muhammad Zein
Wendy adalah adik kandung Imran. Ia adalah bungsu dari empat bersaudara. Wendy merupakan anak emas dari Muhammad Zein. Tersebab sangat rajin membantu orangtua bejualan kain sewaktu masih di Medan.
Wendy pernah bersekolah di Perguruan Al Ulum, semacam pengajian di Medan. Mereka yang mengenalnya mengatakan bahwa Wendy terkenal dengan sifatnya yang tak tercela. Semua merasa heran, mengapa perangai Wendy tiba-tiba berubah setelah mendapatkan pengaruh dari kakaknya, Imran.
Sebelumnya Wendy juga tertangkap dalam penyerbuan Kosekta Pasir Kaliki, tapi berhasil dibebaskan.
Abu Sofyan
Nama aslinya adalah Sofyan Effendi. Ia dikenal bandel dan suka mengisap ganja. Jarang bergaul dengan tetangga.
Menurut cerita Zaiwar, abangnya. Saat istri Sofyan hamil, ia kabur ke Jakarta membawa 250 gram emas milik kakaknya. Beberapa tahun kemudian Sofyan kembali ke Jakarta dan menemui Edy keponakannya, anak Zaiwar.