Singkatnya adalah  "Control of the air is the aerial equivalent of command of the sea" dimana command of the sea adalah istilah yang digunakan Angkatan Laut dalam menjabarkan makna " control of the sea" sehingga jika kita menguasai wilayah udara maka kita juga menguasai wilayah lautnya.
Inilah peran dari air superiority aircraft yang akan mengeliminasi segala ancaman di udara, karena dengan tidak adanya pergerakan apapun dari lawan di udara maka segala pergerakan kita baik di udara maupun laut  untuk melakukan misi dan operasi militer dapat dilakukan tanpa gangguan.
Pengembangan konsep air superiority dilakukan oleh Angkatan Laut Amerika pada program VFAX/VFX (Naval Fighter Attack Experimental) dan Angkatan udara Amerika pada program F-X (Fighter Experimental) dimana program VFAX melahirkan pesawat Grumman F-14 Tomcat sedangkan program F-X Â dengan pesawat McDonnell Douglas F-15 Eagle (sekarang Boeing).
Jika kita ingin melakukan Head to Head kedua pesawat ini dengan pesawat  Soviet maka pesawat  Mikoyan MIG-29 dan Sukhoi SU-27 adalah pilihannya.
Baik Grumman F-14 Tomcat maupun McDonnell Douglas F-15 Eagle (sekarang Boeing) dapat digunakan sebagai inteceptor karena kecepatan yang mumpuni. Pesawat F-15 Eagle kemudian dikembangkan lagi menjadi F-15 E Strike Eagle dengan penambahan peran sebagai attack fighter untuk melakukan serangan ke darat dari udara.
Dengan memiliki peran sebagai air superiority dan attack fighter ini berarti F-15E Strike Eagle adalah Strike Fighter. Ada satu hal yang mungkin dapat membingunkan dimana Strike Fighter adalah juga multi role fighter namun untuk menjawabnya kita dapat melihat peran Strike Fighter itu sendiri yang hanya dengan penambahan satu peran yaitu sebagai attack fighter selain dari peran sebagai air superiority fighter.
Peran sebagai attack fighter pada F-15E Strike Eagle adalah berupa serangan udara ke darat yang berbeda dari umumnya, serangan ini  disebut dengan air interdiction yaitu serangan udara ke darat dalam bentuk tactical bombing dan starfng (penyerangan dengan senjata otomaris dari ketinggian terbang rendah) yang bertujuan memperlambat pergerakan dan aktivitas lawan  sehingga dapat pula menghindari pertemuan antara kekuatan sendiri dengan kekuatan lawan
Target dari air interdiction umumnya yang berupa logistik jadi bukan sesuatu yang bisa menjadi ancaman setiap waktu (immediate threat) seperti pesawat tempur di pangkalan udara.
Sedangkan multi role fighter atau Multi Role Combat Aircraft (MRCA) dapat mencakup peran berupa reconnaissance, suppression of air defenses, aerial bombing, air support, electronic warfare, dan air to air combat.
Surpression of air defenses adalah tindakan atau aksi militer untuk menaklukan pertahanan udara lawan yang berada di darat seperti Surface-to-Air Missile (SAM), Anti-Aircraft Artellery (AAA).
All Weather Fighter / Night Fighter dan Heavy Fighter.