Lazimnya, banyak musisi yang enggan berpihak secara politik karena khawatir kehilangan pangsa pasar. RATM justru sebaliknya, mereka tidak menahan diri guna menyuarakan ideologi politiknya. Mereka menjadikan musik metal serta popularitasnya sebagai senjata utama dalam menyatakan sikap.
Sebagai band sayap kiri yang progresif, mereka konsisten untuk menyuarakan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat AS, seperti ketidakadilan, rasisme, kapitalisme, disparitas, serta tindak kekerasan terhadap minoritas.
Mereka melihat musik metal sebagai media untuk menyebarkan ide. Sebab, menurut RATM, heavy metal memiliki kekuatan dalam melintasi batas untuk membangun dialog yang nyata.
Mereka kerap menyuarakan kritik yang sangat keras terhadap kebijakan dalam dan luar negeri pemerintah AS. Mereka juga berpartisipasi dalam protes politik serta gerakan aktivisme lainnya. Dapat disimpulkan, RATM adalah band paling politis yang pernah ada. Tidak ada satu pun lagu mereka yang bersifat apolitis.
Bahkan, sampul album perdana mereka pun sudah amat politis. RATM memakai foto sosok biksu Vietnam, Thich Quang Duc, yang membakar diri di Saigon pada tahun 1963 sebagai ikon albumnya. Aksi bakar diri itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap persekusi yang dialami oleh para biarawan Buddha.
Lirik-lirik lagu pada album debut RATM layaknya sajak politik yang revolusioner. Mereka meluapkan amarahnya terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.
Lahirnya ideologi politik RATM sendiri bermula dari pengalaman Morello dan Zack yang dibesarkan dalam belenggu diskriminasi dan rasisme ketika masih belia. Mereka berdua lah yang menjadi nyawa bagi band asal Los Angeles itu.
Uniknya, keduanya hidup dalam tradisi kiri yang sangat kuat. Leluhur mereka bukan sosok sembarangan. Kakek Zack adalah sosok revolusioner yang terlibat pada Revolusi Meksiko. Sementara ayah Morello, Ngethe Njoroge, adalah aktivis gerakan Mau-Mau yang terus-menerus memperjuangkan kemerdekaan Kenya.
Secara akademis, keduanya merupakan sosok terpelajar. Zack memperoleh titel Ph.D bidang Antropologi di University of California Irvine. Ada pun Morello ialah alumnus ilmu politik Harvard University.
Agresivitas musik mereka tidak hanya dimaksudkan untuk menghibur, tidak pula hanya agar terkesan keren, tetapi juga untuk mengekspresikan ideologi politik. Motivasi itu lantas dituangkan dalam setiap karya musik mereka.