Mohon tunggu...
Cerpen

Ciuman Terakhir untuk Ayah

13 Februari 2019   17:02 Diperbarui: 13 Februari 2019   17:06 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Kemudian aku membaringkan ayah ditempat tidurnya."terima kasih nak, kau anak yang soleh,kau bisa merawat ibu mu, kau bisa menjadi teladan untuk adik-adik mu, maafkan ayah jika kata-kata ayah pernah menyakiti hatimu, mungkin hanya ini yang dapat ayah lakukan untuk kalian, andai saja ayah sembuh, ayah akan berkerja mencari uang untuk melanjutkan sekolahmu kepondok pesantren, agar kelak kamu bida menjadi syafa'at untuk ayah dan ibumu di akhirat nanti..."ucap ayah padaku pipinya basah oleh air mata.

"Ayah, jangan bicara seperti itu, ayah akan sembuh, kita telah berusaha dan berdo'a kepada Allah, ayah harus percaya pada Allah,"ucapku menjawab perkataan ayah". Kata-kata ayah membuatku semakin sedih dan heran kenapa ayah mengucapkan kalimat seperti itu?

Saat keesokan harinya, aku bersiap-siap untuk pergi kesekolah, ku lihat ayah yang masih terbaring di tempat tidur entah kenapa, kata-kata ayah semalam membuatku merasa berat untuk pergi kesekolah dan meninggalkan ayah."ayah, putri berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum," ku bisikan kalimat itu ditelinga ayah, namun ayah masih tertidur. 

Aku mengecup pipi dan tangan ayah ku. Saat disekolah, waktu istirahat pertama ku habiskan dengan sholat dhuha dimusholla. aku berdo'a, meminta kesehatan untuk kedua orang tua ku, meminta kesembuhan untuk ayahku.. saat aku selesai berdo'a, furqon salah satu kakak kelas yang juga sering sholat dhuha menghampiri ku, dia juga banyak menasehatiku dan mengajarkanku ilma agama sedikit demi sedikit.

"Putri, kamu terlihat sedih,, ada apa?"Tanya kak furqon padaku. "ah, tidak kak, aku baik-baik saja"jawab ku, aku terpaksa berbohong padanya.. tapi tetap saja ia tak percaya."sudahlah put cerita aja sama kakak," bujuk kak furqon  agar aku mau bercerita padanya".

 Aku kemudian menceritakan semua masalahku, kegelisahanku pada kak furqon, kak furqon mendengar cerita ku dengan seksama."putri, aku sangat sangat memahami perasaanmu, kamu harus tetap bersabar, kau gadis yang sholehah, kuat, tabah dan pemberani. 

Sepulang sekolah, segeralah temui ayah dan ibumu, minta maaf pada mereka, kau harus janji untuk menjadi kebanggaan ayah dan ibumu."ucap kak furqon yang tengah berusaha menghiburku dan menasehatiku", aku membalas nya dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Bel masuk berbunyi aku dan kak furqon kembali kekelas masing-masing. 

Sepulang sekolah, aku melihat ramai orang yang datang ke rumahku."Assalamu'alaikum" cu ucapkan salam saat masuk kerumahku. "Wa'alaikum salam" jawab orang-orang yang ada dirumah. Semua orang dirumah tampak bersedih apalagi ibu ku.

Aku datang menemui ibu."ibu, apa yang terjadi pada ayah, kenapa begitu ramai orang yang dating kerumah kita?"tanyaku pada ibu". Ibu menoleh kearah ayah tanpa mengucap sepatah kata pun. Aku tau saat itu ibu sangat sedih, tapi ia tak pernah meneteskan air matanya didepan ku, ibu selalu mengajariku bagaimana menjadi orang yang bersabar. 

Aku hampiri ayah yang tengah berbaring di tempat tidur. "Assalamu'alaikum, ayah putri sudah pulang". Aku bicara pada ayah namun ayah tak menjawab perkataan ku. "Ibu, ayah kenapa???"tanyaku lagi pada ibu", sekarang ibu mau menjawab pertanyaanku. "ibu tidak tahu nak, tadi pagi ayahmu sempat mengumandangkan iqamat ayah mengatakan pada ibu agar ibu dapat  menjaga kalian dengan baik, selang beberapa menit ayah mu tidak dapat berbicara dengan jelas, hanya ucapan 2 kalimat syahadat yang terdengar jelas dari bibir ayahmu nak,"jawab ibu ku". 

Air mataku mengalir sejadi-jadinya. Ku bisikkan 2 kalimat syahadat,kalimat takbir dan tasbih ditelinga ayah. Allahuakbar!!!! Asyhaduanlailaahaillallah wa asyhaduannaMuhammad Rasulullah. Ayah ku meneteskan air mata terakhir dipipinya, ibu segera naik ketempat tidur. Mas!!! "Teriak  ibu ku". Saat itu nafas ayah sudah berada ditenggorokan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun