Lebih baik saya fokus pada apa yang bisa saya kendalikan, bukan? Yups, respon saya! Saya bisa mengendalikan pikiran dan respon saya untuk lebih tenang. Kemacetan ini bisa saya gunakan untuk mengistirahatkan tangan dan kaki. Selain itu, bukankah kemacetan seperti ini adalah momentum paling tepat untuk belajar sabar?"
Memang tak selalu berhasil. Namun, menurut penuturan orang-orang di sekitar saya ada perubahan yang terlihat pada diri saya, utamanya tidak gampang marah akhir-akhir ini. Semoga saja bisa terus berproses dan belajar.
2. Pikiran Buruk Tak Selalu Negatif
Sebelum membaca Filosofi Teras saya selalu merutuki diri saat gagal berpikir positif terkait apapun. Saya selalu merasa kurang bersyukur ketika overthinking.Â
Akan tetapi, ternyata menurut Filosofi Teras, pikiran buruk tak selalu berkonotasi negatif. Stoisisme mengajarkan ada baiknya kita memikirkan hal yang paling buruk bisa terjadi.Â
Hal ini bukan berarti stoisisme mengajarkan pesimisme. Tapi agar mental kita lebih siap dengan apapun yang terjadi nanti.
Ketika saya mendekati seorang wanita saya sudah tidak khawatir lagi mendapatkan penolakan. Karena hal itu sudah saya pikirkan terlebih dahulu. Akhirnya, ketika penolakan itu benar-benar terjadi saya tak larut dalam perasaan galau dan sedih.Â
Ada, sih perasaan-perasaan itu. Tapi durasinya tak lama. Selain itu, berpikir kemungkinan buruk juga dapat disandingkan dengan fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.
"Saya tak bisa mengendalikan penolakan atau penerimaan seorang wanita terhadap saya. Yang saya bisa kendalikan adalah mempersiapkan dan menampilkan diri dengan sebaik mungkin tanpa merugikan diri sendiri dan juga wanita tersebut.Â
Saya akan berusaha meminimalisir kemungkinan buruk itu terjadi. Namun, jika sampai hal buruk itu benar-benar menghampiri saya, setidaknya saya sudah siap karena sebelumnya sudah memikirkannya".
3. Fokus Pada Solusi