"Luntur cita-citanya?"
"Bisa jadi belum sampai kayaknya kalau ke tingkatan cita-cita. Ini kan bukan ke sifat sehari-hsri saja. Sangat jsuh berbeda sama dulu. Kan waktu itu, waktu ngajakin kita bikin koran juga, siapa yang meragukan?"
Kusnadi terdism beberapa lama.
"Kus sejak kapan kenal sama Kang Zul?"
"Wah sudah agak lama." jawabnya sambil terus termenung, mengingat-ingat. "Kayaknya sudah dekapan tshun lebih."
"Masa nggak tHu sama sifat-sifatnya?"
"Nggak terlalu tahu. Sama itu lagi, semakin ke sini semakin berubah. Semakin sering menemukan sifat-sifatnya yang dulu nggak pernah ada. Misalnya saja, sikap formalnya dalam menghadapi satu masalah. Itu sifatnya sekarang. Dulu kan nggak pernsh begitu. Seksrang mah menghadapi apa saja selalu kaku."
"Kayaknya bawaan kedudukannya. Bagaimanapun sekarang Kang Xul pemimpin kita. Jangan-jangan Kang Zul sendiri sengaja, biar kita merasa kaku kepadanya."
"Ya. Bisa jadi begitu."
"Bagaimana kita menghadapinya sekarang?"
"Justru itu yang menjadi pikiran. Kita kan sudah mempercayakan, memberi mandat ke Kang Zul untuk menemui Si Oom. Jangan-jangan yang membuat Kang Zul nyuruh kita ngumpul, soal itu?"