Pada suatu hari ketika saya sedang santai dan menikmati waktu menulis yang menyenangkan di "kuil suci inspirasi" yang kami kelola, tiba-tiba datang dua orang ibu yang naik motor dan seolah kebingungan ingin mencari suatu tempat.
Merekapun akhirnya bertanya kepada saya. "Pak, mau tanya rumahnya pak Mukidi itu dimana, beliau seorang kiai?"
Saya pun berfikir panjang dan sepertinya keheranan, karena dilingkungan perumahan disini tidak ada yang namanya pak Mukidi. "Tidak ada bu' disini namanya Pak Mukidi, mungkin ibu salah, bukan orang sini!" jawab saya.
"Tidak pak, benar pak Mukidi. Rumahnya di sini dan beliau putranya kiai dari Palang!". Tambahnya. "Ahli dalam mengobati dan mengobati orang kesurupan?"
Seketika itu pun aku sadar, bahwa yang dicari ibu-ibu itu adalah seseorang yang jauh dengan saya sekaligus dekat. Keberadaannya jauh, namun ruhaninya sangat dekat. Orang itu merupakan misteri bagi tetangganya dan misteri pula bagi saya dan teman-teman yang mengenalnya. Â
Saya pun memberikan alamatnya dan menunjukkan keberadaan rumahnya. Dan dua perempuan parubaya itu mengikuti arah yang saya tunjukkan.
***
Ulama adalah pewaris para nabi. Mereka adalah sekumpulan orang, sebuah kalimat dalam bentuk jama' (bermakna banyak), bukan mufrod (bermakna satu) yang tentunya bukan identitas "untuk satu orang" sebagaimana pengertian dalam bahasa Indonesia. Mereka adalah orang-orang pilihan yang akan senantiasa ada pada setiap generasi dan akan meneruskan konektivitas manusia dan Tuhan-nya.
Ulama adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat luas yang bentuknya bukan sebuah teks (huruf-tulisan), al-Qur'an (yang kekal) telah menyatu dalam dirinya dalam bentuk ruhani yang senantiasa terjaga siang malam, terjaga ataupun tertidur. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dikasihi dan ditunjukkan untuk membuka rahasia alam melalui jalan yang sudah pernah dialami dan ditempuh oleh para nabi-nabinya Allah, termasuk yang dialami oleh Rasulullah.
Ucapannya terjaga, kata-katanya selalu menentramkan, dan sedikitpun tidak pernah mengeluarkan kalimat yang jahat dan kejam. Kepada yang melakukan kesalahan yang diberikan adalah "pengertian" dan "nasehat" yang menyejukkan dan menentramkan hati. Setiap langkahnya adalah langkah-langkah yang senantiasa menyebut dizkir dan istighfar.
Ilmunya dijauhkan dari sifat riya', sombong, marah, ujub, dan lain-lain. Semuanya hanya untuk mengabdi kepada Allah dan mengharapkan ridlo Tuhannya.
Itulah yang saya pahami dari sosok yang saya kenal sekaligus yang saya tidak kenal. Saya dekat dengannya sekaligus jauh. Dari pancaran yang Maha Mengajari dialah yang memberikan teladan yang paling baik.
Semua adik-adiknya diperlakukan sama dan semuanya telah dikenalinya hingga tidak ada yang dilupakannya. Saudara-saudaranya dari ujung Timur dan hingga Barat Indonesia telah dikenalinya dan tidak ada batas dalam pergaulan dengan beliau. Cuma saja kami-kami sendiri yang tahu diri dan merasa tidak pantas bergaul atau duduk bersama beliau.
Tetangganya tidak ada yang mengenalnya sejatinya seperti apa beliau. Semua orang memanggilnya dengan panggilan "Pak", sedangkan kami memanggilnya dengan sebutan "Bang", panggilan seorang adik kepada kakaknya. Karena kita sama-sama berguru kepada Guru yang sama dan memiliki "aqidah-beragama" yang sama.
Karena selain pekerjaannya tidak jelas, profesi yang ditekuninya juga tidak ada yang tahu. Yang diketahui oleh tetangganya hanyalah beliau orang biasa yang sering berpergian kesana-kemari, ke daerah satu dan ke daerah lainnya. Tidak dalam rangka kerja, tapi dalam rangka "menyelesaikan" masalah dan menjalani perintah Guru-nya. Â
Pada setiap hari raya idul fitri tetangga perumahan dan satpamnya terheran-heran dengan pemandangan yang ada di rumahnya. Tamu-tamu terus menerus berdatangan dan tak ada habis-habisnya.
Semuanya orang-orang yang berpenampilan santri dan kiai. Yang datang selalu memakai identitas santri, kopyah, sarung, dan baju koko. Padahal dalam kesehariannya beliau telah dikenal dengan berpenampilan celana jeans, berkaos, berbaju biasa, dan malah tidak memakai kopyah.
Hingga hari ketujuh rumah beliau selalu kedatangan tamu dan tamunya pasti dari luar kota, dari desa-desa dan dari luar daerah juga.
Nampak dari luar memang beliau biasa-biasa saja. Orang akan melihatnya sebagai orang pada umumnya. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada pula yang bisa dipamerkan, baik jabatannya, hartanya, atau pun aset-asetnya.
Beliau bukan seorang pengasuh sebuah pondok pesantren yang besar, beliau bukan sosok direktur pada sebuah perusahaan, bukan profesor pada kampus elit-ternama-terkenal dan bukan pula seorang kepala dinas di pemerintahan tertentu. Â
Tapi ketika dalam sebuah kondisi tertentu, yang hanya diikuti oleh adik-adiknya dan seluruh teman-teman sebayanya akan nampak bahwa beliau merupakan orang-orang yang disembunyikan. Ilmunya terbentuk bukan karena beliau sekolah, beliau banyak membaca buku, atau banyak melakukan riset, tapi karena intensifnya dalam menyatukan dirinya dengan Guru-nya. Dzikirnya tidak pernah berhenti selama sehari semalam.
Membicarakan seorang ulama sejati, seorang kiai sejati, maka neliau adalah salah satunya. Salah satunya yang dipilih untuk membantu manusia menempuh jalan yang baik dan jalan yang benar dalam mengikuti ajaran warisan para nabi.
Beliau merupakan sosok yang terpilih dan senantiasa berada dalam lindungan Allah yang turut serta menjaga agar keilmuan "abadi Tuhan" di muka bumi tetap bisa lestari dan mencegah munculnya hari kiamat.
***
Banyak cerita yang menampilkan ke-karomah-an beliau dan keberkahannya, mulai dari para murid yang senior hingga yang junior. Ketika kita dihadapkan pada ke-karomah-an-nya (pada suatu kejadian tertentu) itu kami justru malu dan merasa segan. Apalagi jika minta tolong untuk "menyelesaikan" perkara ghaib-ghaib atau mistis tentu kami malah lebih segan dan tidak ada yang pernah memintanya.
Biasanya orang-orang yang mendatangi beliau justru orang awam biasa yang mendapatkan info dari satu orang ke orang lainnya, yang telah menghadapi permasalahan mistik dan ghaib.
Terkadang hanya sekedar konsultasi dan diskusi-diskusi untuk memecahkan masalah. Kebanyakan mereka bukanlah orang yang memiliki "keilmuan" seperti kami. Orang awam yang menginginkan penyelesaian masalahnya secara cepat yang tidak "belajar bersama kami" pada Guru kami.
Sosok "kiai Mukidi" inilah sejatinya kiai yang ilmunya tersembunyi. Orang-orang tidak ada yang mengenalnya secara sempurna dan utuh. Sebagian mengenalnya sebagai sosok manusia biasa, tetangga pada umumnya, sebagian yang lain ada yang mengenalnya sebagai kiai dukun (padahal tidak sama sekali) dan uniknya kami sendiri bahkan "jika tanpa ada takdir" atau ada "izin untuk bertemu beliau" maka kami sendiri tidak ada yang bisa menemuinya.
***
Cerita-cerita tentang beliau, yang kemungkinan bisa dikatakan oleh para sarjana kampus sebagai "mitos" dan cerita-cerita "rakyat awam" sangat banyak dilihat sendiri dan diketahui oleh banyak orang dari kami.
Misalnya pada saat menyelamatkan mobil yang hampir terperosok ke jurang, tidak basah kunyup pada saat kehujanan, menghentikan hujan dengan kedipan mata, memanggil orang dengan hanya menyebutkan nama---lalu orang itu akan datang dengan sendirinya tanpa disadari, selamat dari kemacetan tanpa terhambat, dan masih banyak lagi.
Ketika memberikan saran dan prediksi beliau tidak pernah salah dan tidak pernah meleset. Sebagaimana yang saya alami sendiri saat meminta nasehat dan solusi, dimana "jawaban yang sesungguhnya" baru saya rasakan pada tiga bulan kemudian.
Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan dan kami senantiasa mengikuti jejaknya dalam "berGuru-berAgama-berTuhan". Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI