Puncaknya adalah, dari sisi intelektual ketika Hafnidar meraih gelar Guru Besar atau Profesor. Sedangkan dari sisi religius, ketika Hafnidar mampu menyelesaikan pembangunan masjid dan balai pengajian  sebagaimana wasiat sang Ayah.
"Buku ini tidak semata untuk mengisahkan perjalanan hidup penuh liku dan deraian air mata Hafnidar. Tapi lebih dari itu "Sang Tokoh" ingin mendedikasikan buku ini bagi anak-anak dan cucunya, juga berharap kisahnya dapat menjadi pelajaran bermanfaat bagi masyarakat," ungkap Maskur.
"Ada pesan yang ingin disampaikan Hafnidar dalam kisah ini, bahwa segala apapun yang terjadi, kita harus tetap berusaha bangkit dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Ilahi, Sang Maha Pencipta. Hafnidar juga selalu menitipkan pesan kepada anak-anaknya untuk selalu mengingat Allah," tambahnya.
Maskur mengungkapkan banyak pelajaran yang diperoleh selama proses penulisan buku ini. Setelah 'menjahit' huruf demi huruf, kata demi kata dan kalimat demi kalimat, penulis semakin menemukan banyak hikmah dari perjalanan hidup Hafnidar.
"Tentu kami berharap masyarakat yang telah selesai membaca buku ini juga memperoleh hikmah itu. Hikmah yang memberi manfaat dan pelajaran dalam mengarungi bahtera kehidupan ke masa depan. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua," harapnya.
Sementara itu, Dr. Hafnidar A. Rani, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penulis buku, Maskur Abdullah, yang sukses memotret dan mendokumentasikan kisah saya lewat bahasa jurnalistik yang enak menjadi sajian menarik.
"Saya berharap buku ini bisa menginspirasi banyak orang. Sebagai salah satu dari ribuan perempuan Aceh penyintas tsunami yang sempat terdegradasi mental gara-gara traumatis, saya apresiasi buku ini. Saya bangkit karena dukungan penuh keluarga dan sahabat. Inilah poin penting hingga saya bisa mengabdikan diri sebagai akademisi," ucap Hafnidar.
Menurut Hafnidar, buku Hafnidar Perempuan Aceh Menerjang Badai, sangat penting bagi hidupnya. Lewat inskripsi buku ini dirinya berharap dapat berbagi pengalaman kepada pembaca bagaimana saya meniti jalan hidup bersama keluarga setelah diamuk tsunami.
""Life must be consistent." Semoga menjadi pembelajaran dan motivasi kepada generasi muda, khususnya bagi anak-anak dan cucu-cucu saya, bagi masyarakat Aceh, Indonesia, bahkan dunia," kata Hafnidar.
Cover dan layout buku Hafnidar Perempuan Aceh Menerjang Badai , didesain oleh Siti Fatona, sedangkan foto cover oleh Sania LS.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H