“Ya mau tidak mau, Kahfi mengeluarkan buku Pe-Ernya,” kisah isteri saya.
“Cuma untuk memastikan, atau...?
“Mereka kemudian nyontek rame-rama!” tambahnya.
“Anaknya atau ibunya?” saya ingin memastikan pelaku curang itu.
“Ibunya yang sekolah. Ibu-ibu itu kemudian berkurumun nyontek Pe-Er-ya Kahfi yang sudah seelsai. Anak-anak mereka di samingnya,” isteri saya terlihat kesal dengan perilaku sebagian ibu-ibu itu.
Sesaat saya menghela napas. Ada dada napas yang tertahajn di dada saya. Secara pribadi saya juga tidak menerima dengan perilaku seperti itu. Tapi ...
“Bunda diam saja?” saya ingin tahu sikap isteri saya.
“Bunda sengaja buang pandangan dan keluar dari kelas, seolah-olah tak mengetahui.”
“Apa anak-anak mereka tidak mengerjakan Pe-Er?” tanya saya lagi.
“Bunda juga aneh melihat itu. Kok bisa-bisa-nya seorang Ibu tidak tahu kalau anaknya ada Pe-er dari sekolah,” isteri saya masih kesal.
“Yaaaah, itung-itung bagi ilmu. Biarkan saja, Bun,” jawab saya seolah tanpa beban.