Mohon tunggu...
Hasan Aspahani
Hasan Aspahani Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis, Penulis, Penyair.

MM Strategis dari Universitas Prasetiya Mulya. Berkarir di Jawa Pos Grup. Lahir di Sei Raden, Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim, 1971. Menulis novel (a.l. "Persimpangan", Gagasmedia, 2019), nonfiksi (a.l. "Chairil Anwar" sebuah Biografi, Gagasmedia 2016), puisi (a.l. "Aviarium", Gramedia, 2019), story developer (a.l. untuk skenario "Bumi Manusia", Falcon, 2019). Kerjasama hubungi www.kreatorkonten.com.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Belajar dari Gaya Kepemimpinan Dahlan Iskan

10 Agustus 2019   17:31 Diperbarui: 11 Agustus 2019   13:06 1397
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kelima, orang yang solusional adalah pekerja keras.  Ketika menjadi Dirut PLN Dahlan Iskan pernah menantang pengusaha Sofjan Wanandi.  

PLN berencana mengubah struktur batas tarif listrik untuk industri yang ia nilai selama ini terlalu ringan. Sofyan menilai rencana itu adalah kemalasan PLN mencari jalan keluar agar perusahaan itu efisien, dan hanya memberatkan pengusaha. Dibilang malas, secara terbuka Dahlan menantang Sofyan.

"Seolah dia saja yang bisa kerja keras," kata Dahlan, "Saya kepingin tahu, apakah dia bisa bekerja keras melebihi saya. Saya tahu bahwa saya ini orang yang lagi sakit dan belum lama operasi ganti hati. Tapi soal kerja keras, saya kepingin tahu siapa yang bekerja lebih keras, saya atau dia," katanya kala itu.

Hanya orang yang benar-benar telah bekerja keras yang tahu apa arti kerja keras dan bagaimana bangganya mengatakan bahwa ia sudah bekerja keras.  

Dahlan jelas orang yang tergolong pada kelompok itu.  Ia bukan orang yang asal omong, juga bukan orang yang cuma berani omong.

Tantangannya kepada Sofyan Wanandi terlontar karena dia lebih dahulu disalahmengertikan. Ia harus meluruskan kesalahmengertian itu, dengan balik menantang. Ini adalah sebuah pertunjukan integritas diri yang memukau, bukan sekadar tindakan sok jagoan yang kosong tanpa isi.

Keenam, orang yang solusional adalah orang yang berpegang teguh pada komitmen.  Karena komitmen adalah janji, dan janji itu harus ditepati.

"Ketika saya sudah berkomitmen, maka saya melihat itu sebagai janji dan janji itu harus saya tepati," kata Dahlan Iskan dalam sebuah seminar kepemimpinan yang digelar oleh QB Leadership dan majalah Warta Ekonomi, yang menghadirkan dia sebagai pembicara.  

Terakhir, yang ketujuh, orang yang berpikir solusional, adalah orang yang tidak rumit, ia bisa menyederhakan persoalan, bukan menganggapnya mudah.  

Tapi, ya soal yang sudah disederhakan jadi mudah untuk diatasi. Ia bisa mengurai benang kusut, lalu menyelesaikan persoalan dengan langkah yang tampaknya sederhana.

Mengurai Benang Kusut PLN

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun