Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... Jurnalis - penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Makan Bergizi Gratis Rp10.000, Apa Mungkin?

7 Desember 2024   17:00 Diperbarui: 7 Desember 2024   17:31 106
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Simulasi makan siang gratis. Sumber Foto: KOMPAS/PRIYOMBODO  

Baiklah, saya mendatangi sejumlah warung nasi tempat saya biasa makan di kawasan Cinere, Depok.  Franki, seorang karyawan Warteg  di pinggir jalan Cinere Raya menyatakan Rp10.000 itu hanya satu porsi nasi dengan satu lauk, misalnya nasi rawon atau nasi udang.  Sementara satu porsi dengan sayur Rp8.000.  

Saya sendiri biasa makan di sana  Rp13.000, seporsi nasi dengan sayur sop dan telur balado atau  seporsi nasi dengan sepotong tongkol. Kalau dari segi gizi cukup walau tanpa buah.

Di Mal Cinere Lantai Atas ada Ibu Ami, sebuah pemilik warung nasi binaan UMKM Depok menjual seporsi nasi, lauk dan sayur Rp12.000. Lauknya itu berupa suir ikan tongkol, potongan-potongan kecil cumi atau potongan ati-ampla.  Sementara sayurnyatumis  toge, kadang sop atau campuran bihun.

"Nggak mungkin Rp10.000. Kalau nasi dengan sayur saja bisa atau itu harga sepiring mi instan dengan telur seporsi," ujar dia, seraya mengatakan harga bahan makanan mahal.

Namun kata Ibu Omi, yang mempunyai warung nasi sebelah mal menjawab Rp10.000 bisa dengan hitungan katering dengan jumlah yang besar. Dengan Rp10.000, bisa dapat nasi, sayur, dengan dua pilihan lauk, telur atau ikan tongkol atau ikan cuek. Jumlahnya paling tidak 50 porsi.  Di samping usaha rumah makan, Ibu Omi memang juga usaha katering.  Dia bisa buat harga nasi, sepotong ayam dan sayur Rp15.000.

Salah satu menu makanan saya di sebuah warteg kawasan Cinere, seharga Rp13.000-Foto: Dokumentasi PribadiI
Salah satu menu makanan saya di sebuah warteg kawasan Cinere, seharga Rp13.000-Foto: Dokumentasi PribadiI

Dari hasil survei dan pengalaman saya makan di warung nasi besar kemungkinan paket makan siang bergizi gratis itu tidak dilakukan melalui pesanan dari pihak ketiga karena biayanya bisa lebih besar.

Misalnya begini, sebuah sekolah mempunyai kebun sayur atau mendatangkan sayur yang dikelola dengan cara urban farming (yang makin menjamur di kota seperti Bandung dan Yogyakarta), juga urban farming  lele dengan ember, pertenakan ayam skala kecil yang tersedia di sekitar. Kemudian dimasak di suatu tempat dan didisribusikan ke sekolah. Begitu juga buah-buahannya hingga memangkas ongkos transportasi. 

Saya pernah menulis soal SMPN 2 Bandung yang mampu mengelola kebun sayur untuk kebutuhan sekolahnya sendiri dengan cara ramah lingkungan pupuk kompos pula. Baca: Bawa Bekal atau Jajan, Siswa Wajib Bawa Misting dan Tumbler.  

Economics of Scale

Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Riza Annisa Pujarama mengatakan program itu  dimungkinkan, jika pembuatan makanannya dalam skala besar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun