Tidak mengherankan kalau Bandung punya Nadine Andriana, yang masih berusia 11 tahun ketika tampil bersama kelompoknya Nadine The Infinity di acara TP Jazz Weekend di Stage Hotel The Papandayan. Â Nadine bahkan mampu berkoloborasi dengan pemusik senior Ari Firman (Pikiran rakyat, 16 Mei 2016).
Kegiatan TP Jazz  cukup rutin berlangsung  dan menjadi program  Hotel Papandayan, Jalan Gatot Subroto. Program ini  berawal pada 2013  bekerja sama dengan Harry Pochang.  Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pada 31 Oktober 2015 menyebutnya "The Adress of Jazz Bandung".  Pada TP Jazz Bandung festival 24-29 Oktober 2016 sebanyak lebih dari seratus musisi jazz lokal dan mancanegara tampil.
Universitas Padjadjaran juga punya event jazz internasional rutin yang dinamakan Kampoeng Jazz pada 2018 ini sudah berlangsung ke delapan kalinya. Musisi yang tampil mulai dari tingkat lokal hingga musisi jazz internasional.  Saya sendiri hanya sempat hadir pada perlehatan 2014 dan 2015 di mana jago saya dari Bandung  Yura Yunita mulai menonjol.
Aktivitas jazz rutin lainnya ialah apa yang disebut sebagai "Braga Jazz Night".  Pada 21 Juni 2018 mengelar edisi ke 48 dengan  tema "Tribute to The Doors".  Dalam pertunjukkan itu selain tampilnya band The Hedgehoc, juga tampil penyanyi yang baru berusia 12 tahun Fatima Favel Fauziah, dengan iringan gitaris senior Hardi Suryana.
Kontribusi Perguruan Tinggi  Â
Dari hasil riset saya genre musik cadas sudah menonjol di Bandung terutama sejak 1970-an dengan munculnya Giant Step, Harry Roesli dan paling eksis di kalangan kaum muda, sehingga regenerasinya begitu cepat. Â Hal yang serupa terjadi di negara lain di mana rock adalah musik kaum muda dan menjadi musik perlawanan.Â
Yang menarik ialah musisi banyak yang lulus atau setidaknya mengenyam  perguruan tinggi. Setahu saya almarhum Albert Wanerin, gitaris Giant Step adalah alumni Fakultas Hukum Unpad dan almarhum Harry Roesli dari ITB. Sejumlah band yang berdiri sejak era 1990, yang saya riset dimulai dengan pertemanan di kampus kota kembang ini. Â
Saya menyebut mereka yang terdidik di perguruan tinggi ini sebagai "neo menak" dan tampaknya memberikan kontribusi musik mereka menjadi kreatif dan berisi. Â Â
Tentunya pada musisi dan penyanyi jazz latar belakang perguruan tinggi lebih menonjol. Namun jazz lebih baru muncul di kalangan kaum muda, terutama pada era 2010-an. Â Munculnya Ridwan Kamil sebagai wali kota Bandung, Â yang juga dari kalangan "neo menak" tampaknya memberikan perhatian pada perkembangan musik jazz.
Kalangan "neo menak" ini juga menyelamatkan regenerasi musik keroncong di Kota Bandung, seperti Keroncong 7 Puteri dari kalangan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Â Bahkan juga untuk Indonesia, karena hanya beberapa muncul seperti di Surabaya dan Yogyakarta. Â Tentunya juga pada genre lagu ballad, pop hingga musik tradisional, elektronik, bahkan pengaruh idol Jepang dan K-Pop juga ada di Kota Bandung. Â Â
Sejumlah band atau kelompok musik dari berbagai genre pun lahir di perguruan tinggi. Band Seratus Persen lahir di Sekolah Tinggi Seni Indonesia  Bandung pada 1999, Sigmund didirikan para personel yang belatar belakang pendidikan Seni Rupa dan Desain ITB pada 2011, Mocca juga lahir dari para personel yang kuliah di Itenas dan ITB.