Mohon tunggu...
Julyawati Munir
Julyawati Munir Mohon Tunggu... -

Ruby, Berlian, Topaz

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Diah dan Ratih

14 November 2012   17:02 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:22 288
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Degup jantungku tak beraturan saat membaca pesan singkat di layar handphoneku, "Kita perlu bicara..., bisakah kau meluangkan waktumu...? Pengirimnya adalah Diah, istri mas Bima.

Aku tidak begitu mengenal Diah, aku hanya mengenal mas Bima suaminya yang juga adalah suamiku, aku sangat mencintai mas Bima, entah apa yang aku pikirkan, bahkan mungkin saja aku sudah tidak mau berfikir, aku hanya memenangkan apa yang aku rasa, sehingga aku setuju saat tiga tahun lalu mas bima memintaku untuk menjadi istrinya walau aku tahu mas bima sudah memiliki istri.

"Baiklah mbak..., sore ini kita ketemuan, mbak tentukan saja tempatnya.." segera aku mengirim balasan pesan singkat ke nomor diah istri pertama suamiku.

Aku berusaha kosentrasi menyelesaikan pekerjaanku, walau banyak yang terlintas di pikiranku tentang apa yang ingin disampaikan mbak diah, apa yang akan terjadi di pertemuan nanti, bagaimana jika dia memakiku, meneriakku dikeramaian, entahlah... saat ini aku harus tenang, aku tidak ingin pekerjaanku kacau.

tepat pukul setengah lima sore aku meluncur menuju tempat pertemuanku dengan mbak diah, Dia sudah lebih dulu sampai, aku mengenalinya dari foto yang pernah ditunjukkan mas bima, ini pertemuanku pertama kali dengannya, jujur aku sedikit takut, bukan karena aku merasa bersalah karena menjadi saingannya, aku tak pernah menganggapnya sebagai saingan, tapi siapapun juga pasti akan menjadi marah pada wanita yang masuk dalam kehidupan suami yang sangat di kagumi dan di cintai.

"mas..., bagaimana jika mbak diah menolak di madu?" kulontarkan pertanyaan ini sewaktu mas Bima melamarku

"dek..., kamu akan tetap menjadi istri mas, percayalah mas tahu bagaimana mbak diah, mungkin di awal mbak diahmu akan merasa marah, kecewa, sakit hati karena di duakan, tapi kita harus bersabar dek, kita semua mesti melewati hal ini, mas tidak pernah bercita cita beristri dua, mas mencintai mbak diahmu dan maspun jatuh hati kepadamu tanpa pernah mas rencanakan, yang jelas mas tidak akan menyia-nyiakan mbak diah yang jauh lebih dulu masuk kedalam kehidupan mas, sampai kapanpun dia adalah istri mas, dan mas tidak akan meninggalkannya

Pada akhirnya aku memang menikah dengan mas Bima, kami menikah setelah mas bima lebih dulu menyampaikan niatnya pada mbak diah, dan seperti yang kuduga mbak diah tidak rela jika mas bima menikahiku, dia marah padaku, menuduhku merayu suaminya, segala kekecewaannya dituliskannya melalui pesan sms yang dikirimkannya ke nomor handphoneku, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, walau dia marah dan sangat membenciku dia tidak bisa melawan takdirnya, sebagai istri yang sangat mencintai suaminya dia membiarkan pernikahan itu terjadi walau hati terluka sangat dalam, dan aku menutup mata, telinga atas cemoohan banyak orang terhadapku, dan aku memang sangat bahagia dengan pernikahanku, mas bima sangat memanjakanku, dan sangat sayang pada anak-anakku, dan sekarang tiga tahun telah berlalu, tiba-tiba saja mbak diah menyapaku melalui sms, dan ingin berbicara empat mata denganku.

*****

"Kita harus bicara..., bisakah kau meluangkan waktumu?" aku mengirim pesan singkat kepada ratih, maduku.

Aku sudah memantapkan hatiku, bahwa persainganku dengannya harus diakhiri, masih jelas terekam diingatanku tiga tahun yang lalu saat mas bima mengutarakan keinginannya untuk memperistri ratih, janda dengan dua orang anak, belakangan aku tahu bahwa sebelum ratih menikah dengan suaminya ratih pernah menjalin hubungan dengan suamiku, tapi pada akhirnya mereka berpisah dan akulah yang akhirnya menjadi istri mas bima sementara ratih menikah dengan pilihan orang tuanya.

Mas Bima akhirnya bertemu lagi dengan ratih, tapi dia sudah menjadi janda dengan dua orang anak, suaminya meninggal dunia, dan kepadaku mas bima mengakui bahwa dia simpati dengan keadaan ratih dan ingin menikahinya, mas bima ingin menjaga ratih, dan menjadi ayah bagi anak-anak ratih yang masih balita.

Aku sakit, sangat sakit..., bagaimanapun juga aku merasa mas bima sudah tidak mencintaiku, bagaimana mungkin mas bima tega menyampaikan keinginannya untuk menikah lagi, padahal mas bima sangat tahu kalau aku mencintainya sepenuh hatiku, tak pernah terlintas sedikitpun bahwa mas bima akan membagi cintanya, aku marah pada ratih, aku menuduhnya sebagai perempuan perusak rumah tangga, kesepian, dan tak punya perasaan, terlebih aku akhirnya tahu bahwa mereka pernah saling mencintai sebelum akhirnya mas bima memilihku untuk jadi istrinya, pada akhirnya pernikahan itu tetap terjadi, penolakanku bukan halangan bagi mas bima untuk melangsungkan niatnya, " Dek, mas tau kamu kecewa dengan niat mas ini, tapi mas tidak ingin kamu tahu pernikahan mas ini dari orang lain, mas tetap mencintaimu dan akan selalu bertanggung jawab padamu dan juga anak-anak, ndak ada yang akan berubah, hanya waktu kebersamaan yang akan sedikit berubah, selebihnya tidak," begitu mas bima saat menyampaikan niatnya ingin memperistri ratih, Aku hanya diam menahan perasaan

Tiga tahun berlalu, aku merasa sudah cukup, sudah saatnya aku mengakhiri perang dingin antara aku dan ratih, aku sudah memantapkan hatiku.

"Baiklah mbak, sore ini kita ketemuan..., mbak tentukan saja tempatnya". Aku membaca pesan singkat balasan dari ratih maduku, segera kukirim pesan balik ke ratih memberitahukan tempat pertemuan kami sore ini, semuanya akan segera berakhir, batinku.....

********

"Pertemuan"

"Assalamualaikum mbak...." Ratih menyalami Diah memulai percakapan di pertemuan sore itu

"Waalaikumsalam..., duduklah...," Ratih mengambil tempat berhadapan dengan Diah, lama mereka saling terdiam,  hingga pesanan minuman dihidangkan oleh waitress yang kemudian berlalu meninggalkan mereka yang masih saling diam

"Maaf mbak..., apa yang ingin mbak sampaikan pada saya ?" Ratih memecah kebisuan

"Apa yang ingin ku sampaikan ini adalah merupakan keinginanmu dan mas bima, dan juga merupakan keinginanku juga, Diah menjawab dengan suara tertahan." berat dan sakit dimadu sudah ku rasakan diawal pernikahanmu dengan mas bima, tapi sekarang sudah tiga tahun berlalu", diah menarik nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya, Ratih..., aku sudah bisa menerima kenyataan bahwa ada perempuan lain yang dicintai suamiku dan aku menawarkan persaudaraan denganmu, semua melalui proses yang tidak mudah..., mulanya aku memang sangat membencimu, aku merasa kamu janda kesepian perayu suami orang, aku mempertanyakan dimana perasaanmu sebagai sesama perempuan, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai paham mengapa mas bima jatuh hati kepadamu, selama ini mas bima tidak pernah berubah dalam bersikap terhadapku, meski dia sudah memiliki wanita lain, mas bima masih tetap memanjakanku dan semakin memperhatikan aku dan anak-anak, tak ada yang berubah, dia masih tetap suami yang sayang pada keluarga, dan aku yakin itu karena kamu adalah orang yang baik, dan aku yakin kita berdua bisa saling menyayangi sebagai dua orang saudara yang memiliki cinta yang sama besarnya pada mas bima, suami kita.

"Ratih...., saya ingin kita berdamai",

Ratih sama sekali tak menyangka dengan tawaran damai diah, air mata tanda bahagia atas penantian sebuah perdamaian mengalir membasahi pipi mulusnya, rasa syukur atas penawaran perdamaian yang ditawarkan diah sontak membuatnya berdiri menyalami dan mencium tangan diah, dan merekapun berpelukan bagai dua saudara, banyak yang sudah mereka lalui selama ini, tak semua orang bisa memahaminya tapi mereka berhasil melewati tahap demi tahap, tak mudah di pahami, tapi kenyataan memang tak semuanya bisa dengan mudah dapat di  pahami dan di terima semua orang....

* Polygami tak selalu pahit *

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun