Bahasa-bahasa di dunia memiliki kekayaannya masing-masing dalam hal kosakata. Bahasa Spanyol misalnya sangat kaya dalam kata kerja. Misalnya minimal ada empat (4!) kata dalam bahasa Spanyol yang berarti "membiasakan diri" yaitu soler, acostumbrar, habituarse, dan reiterar.Â
Walau sama-sama berarti "membiasakan diri", setiap kata memiliki nuansa dan penggunaannya masing-masing yang hanya berlaku pada konteks atau situasi tertentu. Â
Memahami perbedaan setiap kata yang ber-sinonim akan membantu menerjemahkan kata yang bersangkutan dengan lebih tepat. Kreatifitas penerjemah tentu diperlukan untuk mencari padanan kata atau kalau perlu padanan frasa (kata majemuk atau kelompok kata) yang tepat.
Kedua, pelajari dialek bahasa asing terkait!
Bahasa spanyol yang digunakan dalam roman Vargas Llosa adalah bahasa Spanyol yang digunakan di negara Peru di Amerika Selatan. Bahasa Spanyol ini memiliki dialek-nya tersendiri yang sedikit berbeda dengan bahasa Spanyol standar yang digunakan di negara Spanyol di Eropa yang disebut bahasa spanyol castellano.
Perbedaan antara bahasa Spanyol di Peru dan spanyol castellano misalnya terletak pada perbedaan kosa kata yang biasa digunakan untuk menyebut kamu, anda dan kalian. Sapaan seperti "compadre" atau kata seru yang mengungkapkan keterkejutan seperti "Que carajo!" misalnya tidak digunakan dalam bahasa Spanyol standar. Â
Memahami hal-hal kecil tersebut akan membantu penerjemah memahami konteks situasi dan hubungan antar karakter dalam kisah secara tepat.
Pada umumnya pengarang akan menulis berbagai hal terkait latar belakang roman-nya dengan anggapan bahwa pembaca sudah mengerti tentang situasi, jaman, budaya maupun kebiasaan yang terjadi.Â
Pada roman Lima Sudut, Vargas Llosa mengandaikan bahwa pembaca cukup familiar dengan situasi Peru di tahun 90an, khususnya situasi di kota Lima termasuk memahami ketegangan, ketakutan, gaya hidup pada masa dan lokasi-lokasi tersebut.
Adalah tugas penerjemah untuk bisa menghadirkan situasi dan suasana asing tersebut ke pembaca. Dalam kasus ini adalah tugas saya sebagai pengarang untuk membawa situasi kota lima di tahun 90an di era rejim Fujimori ke benak pembaca bahasa Indonesia.