"Pembelajar" lebih mengarahkan kita ke kata dasar "belajar," sebuah kemandirian yang tak tergambarkan jika kita menggunakan kata "murid," yang langsung mengarahkan pikiran kita ke "guru."
Belajar bisa kita lihat sebagai sebuah kata dasar yang menambahkan awalan "bel" pada kata yang lebih dasar atau kata asal "ajar," mirip dengan:
- Depan, kedepan (taruh atau buat lebih di depan), kedepankan, mengedepankan.
- Muka, kemuka (taruh atau buat lebih di muka), kemukakan, mengemukakan.
Dengan situasi yang diuraikan di atas, saya mau mengajak para pembaca untuk "meluruskan" nilai rasa lain yang jauh lebih mudah dibenahi sebagai berikut:
Pinjam
Pinjam, meminjam: memakai barang (uang dan sebagainya) orang lain untuk waktu tertentu (kalau sudah sampai waktunya harus dikembalikan).
Meminjami: memberi pinjam, contoh: dia meminjami aku uang.
Meminjamkan: memberikan sesuatu (barang, uang, dan sebagainya) untuk dipinjam, contoh: dia meminjamkan sepeda motor kepada saya.
Sampai di sini tidak ada masalah, tetapi begitu kita masuk ke:
Pinjaman (KBBI): yang dipinjam atau dipinjamkan (barang, uang, dan sebagainya).
Di sini terlihat kerancuan yang timbul akibat penyamaan "dipinjam" dengan "dipinjamkan" yang mengabaikan arah dari subjek ke objek atau sebaliknya.
Jika kita tertib, arah "meminjam" adalah dari subjek, orang yang menerima:
1. Pinjaman.
2. Dari orang yang meminjamkan.
3. Barang yang dipinjam.
Jadi, peminjam adalah orang yang dipinjami pinjaman yang dipinjam olehnya, atau orang yang dipinjami pinjaman yang dipinjamkan kepadanya.Â
Menyamakan "dipinjam" dengan "dipinjamkan" adalah fatal.
Dengan berpegang secara tertib pada kaidah dasar, maka kita tidak kesulitan memaknai arah loanword (kata pinjaman), misalnya "Kata pinjaman Indonesia dalam bahasa Belanda" yang sama maknanya dengan "Kata pinjaman Belanda dari bahasa Indonesia."