Â
Dengan ketakwaan dan upaya yang fokus negara berhasil menjalankan fungsinya meriayah rakyat yang dipimpinnya. Sama persis sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. Bukan sekadar disebut penguasa, namun kekuasaan mereka benar-benar mereka jalankan dengan penuh ketaatan kepada Allah. Sungguh relasi yang sangat kuat, bahwa apapun di dunia ini tak ada yang lebih tinggi dari syariat Allah SWT.
Â
Kestabilan pembiayaan negara juga ditunjukkan dari banyaknya harta untuk meriayah pengungsi selama masa paceklik hingga sesudahnya, inilah bukti jika Baitul Mal yang juga disusun pos-posnya sesuai syariat sangat bisa diandalkan. Rakyat bukan beban, sebab pendapatan Baitul mal bukan dari rakyat. Di dalam Baitul mal ada pos khusus yang dianggarkan untuk pembiayaan bencana alam. Yang didapat dari kharaz, fa'i dan pos kepemilikan umum. Â Jika kas itu kosong maka ada dua cara yang akan ditempuh oleh negara agar kemaslahatan rakyat tetap bisa diwujudkan.
Â
Pertama dengan menarik Dharibah ( semacam pajak) , namun berbeda dengan pajak di sistem kapitalisme. Pajak ini hanya ditarik dari muslim yang kaya hakiki, kaya yang sudah mampu memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya namun masih diberi keleluasaan rezeki oleh Allah untuk membiayai lainnya. Dharibah ini akan dihentikan jika kondisi membaik dan kas Baitul mal sudah terisi kembali. Cara kedua adalah jika ditakutkan pengumpulan Dharibah terlalu lama sementara dampak bencana begitu hebat sehingga harus segera diselesaikan maka negara akan berhutang dan dilunasi dengan pajak dari kaum Muslim. Â
Tak ada yang mampu secara tuntas memberikan kesejahteraan kepada nasib para pengungsi bencana apapun di negeri ini ketika sistem sekuler masih dipertahankan. Terlebih juga tak akan lahir pemimpin yang bertakwa dan hanya mengerjakan apa yang diperintahkan atau di larang Allah SWT. Masihkah kita berharap pada sesuatu yang tak memberikan kepastian? Wallahu a'lam bish shawab.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI