Anggaplah teknologi informasi seorang tamu baru yang sudah dikenal, tapi belum pernah ketemu. Apakah Koperasi menyambut baik, menolak atau menghindar? Tergantung mindset siapa yang menemui.
Jika (koperasi) yang menemui memiliki mindset bagus tentang teknologi, maka pertemuan akan menyenangkan da berlanjut hingga terjadi eksekusi.
Jika (koperasi) yang menemui masih belum move on  dari mindset konvensional, maka prtemuan tsb akan dianggap basa basi.
TOP DOWN atau BOTTOM UP
Dalam kasus Pinjol, jika Pemerintah turun tangan dengan solusi memberi bantuan pinjaman lunak kepada mahasiswa, itu sebuah langkah top down sementara, yang mungkin tidak bertahan lama.
Namun jika pihak Kampus (pak Rektor) secara bottom up, turun tangan mendorong KOPMA dan seluruh Almuni melakukan digitalisasi, maka solusinya menjadi jangka panjang (sustainability).
Dengan catatan, tak ada salahnya koperasi di-onlinekan (digital) seperti Pinjol. Koperasi digital, bukan Pinjol karena  beda karakter. Optimis KOPMA berkembang karena anggotanya melek teknologi. Biar sama-sama berhadapan dengan mahasiswa. Nampaknya jika Koperasi sudah online (digital), pinjolpun akan datang merapat.
Percayalah, jika  koperasi  bertemu dengan teknologi, maka sang Pinjol akan waspada ketika masuk ke kampus., karena akan berhadapan dengan Koperasi yang anggotanya melek teknologi.
Semoga pertemuan antara koperasi dan teknologi (dalam sebuah ponsel) menjadi solusi pengembangan usaha KOPMA/KOKESMA, tidak hanya toko dan warung, namun bisa berkembang untuk pembiayaan pinjaman kuliah mahasiswa di Kampus Merdeka !
##Salam koperasi
BdgAntapani, 21.03.2024
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H