"Man Jadda Wajada, Siapa yang bersungguh-sungguh, niscaya ia akan berhasil"
Pernahkan sahabat diminta teman atau orang lain menulis atau tanda tangan menggunakan tangan kiri, padahal biasanya menggunakan tangan kanan? Pasti yang terjadi semacam pemberontakan batin bukan?
Barangkali ada perasaan jengkel, protes, ada yang bilang mustahil, susah, atau bahkan ada yang bilang tidak bisa serta pikiran berontak lainnya. Kalau pun mau melakukan, namun terasa sangat berat untuk mulai menggoreskannya.
Nah, itulah contoh kecil yang disebut dengan “Change atau Perubahan”.
Kata change atau perubahan, sering kita baca dan dengar dalam topik mengenai individu,perusahaan dan juga dalam kehidupan bernegara.
Puluhan artikel,buku, dan seminar yang sudah dibuat dalam dua dasa warsa terakhir ini. Banyak penulis,motivator,politisi, bahkan calon kepala daerah menggaungkan dan menjadikannya jurus pamungkas untuk kampanye.
Pertanyaannya, apakah sudah ada hasilnya ? Tentu yang namanya proses perubahan,ada yang sedang berjalan,ada yang sudah berhasil dan tidak sedikit yang mengalami kegagalan.
Secara rinci,hal itu bisa dibaca dalam buku managemen perubahan yang berjudul “CHANGE “ yang ditulis dengan apik dan sistematis oleh Prof.Rhenald Kasali Ph.D, lengkap dengan contoh yang nyata.Lalu dilanjutkan dengan pembahasan Kurva “S” atau Kurva Sigmoid (Sigmoid Curve) yang identik dengan teori perubahan.
Pembahasan kurva Sigmoid,juga diulas dengan sangat detail,dengan contoh yang menarik dalam buku tersebut.Ada ulasan tentang managemen Transformasi,managemen Turnaround dan managemen Krisis.
Saya adalah salah seorang pendukung perubahan,walupun dalam keseharian,masih banyak yang dalam tanda kutip“belum berubah”.
Sebut saja misalnya,saya masih merokok,meskipun bukan perokok berat,merokok semata-mata karena iseng dan cara mudah menjalin persahabatan.Cara itu bukanlah cara yang tepat sebagai alasan,karena ada cara lain yang lebih sehat.Demikian juga soal olah raga dan pola makan yang masih belum teratur.Namun saya punya tekad,saya pasti bisa melakukannya,daripada racun dan hukumannya,akan saya nikmati di kelak kemudian hari.
Semua orang sadar, bahwa merokok itu merusak kesehatan,namun masih ada jutaan orang yang merokok, dan saya termasuk bagian di dalamnya.Kita semua juga paham,bahwa makan makanan yang sehat,olahraga teratur akan menyehatkan badan.
Namun faktanya,masih banyak orang yang suka makanan yang berlemak, makan jeroan,minum minuman yang manis dan beralkohol,malas berolahraga, serta kebiasaan kurang baik lainnya.
Kenapa itu bisa terjadi? karena manusia sudah melakukan hal yang berulang dalam kurun waktu yang lama,dan itu sudah memasuki alam bawah sadarnya.Apa yang kita jalani selama ini, sudah menjadikan diri kita budak-budak yang malas untuk merubahnya, dan butuh waktu serta pemantik untuk memulainya.Lalu pertanyaan yang muncul,kapan kita bisa berubah ?
Orang akan mau berubah saat ada pemantik yang hebat untuk merubahanya,entah itu berupa hukuman,penyakit dan hal yang tidak enak lainnya,sehingga membuat orang untuk bertobat.Perubahan pada individu, juga bisa terjadi karena ada pemicu lain yang yang sifatnya emosional,sesuatu yang sangat dicintainya,sebut saja contohnya karena ingat anaknya yang masih kecil,yang masih butuh kasih sayang darinya,atau saran dari orang terdekat entah itu pacar,istri atau dari orang tuanya.
Pertanyaan selanjutnya,bagaimana halnya dengan perusahaan,apakah change atau perubahan itu mudah dilakukan ? Dari penuturan para executive,pengalaman orang-orang hebat dan ulasan buku CHANGE, perubahan di tingkat perusahaan, juga mengalami hal yang serupa.Ada yang berhasil dan tidak sedikit yang mengalami kegagalan.Perubahan memerlukan kepemimpinan yang kuat,rasa pantang menyerah dan ketekunan.
Perusahaan yang mau berubah,akan banyak menghadapi perlawanan-perlawanan,baik dari karyawan yang di tingkat bawah,level management dan juga dari serikat pekerja.Mereka tidak ingin rasa nyaman yang sudah bertahun-tahun terganggu oleh jurus yang namanya perubahan.Disatu sisi, perusahaan sedang menghadapi problem yang komples,pelayanan yang kurang baik,karyawan yang malas,tidak disiplin,produktifitas rendah dan masalah lain yang menggunung.
Itu adalah sekelumit kecil yang dihadapi perusahaan untuk melakukan perubahan.Disebutkan juga dalam buku tersebut, banyak perusahaan yang berhasil melakukan perubahan, namun tidak sedikit yang mengalami kegagalan. Contoh perusahaan yang berhasil melewati pasang surut kurva “S” misalnya Astra Internatioal,Garuda Indonesia,BNI,BCA,Gudang Garam,Jamu Jago Cap Potret Nyonya Meneer.
Untuk contoh perusahaan-perusahaan yang berhasil melakukan perubahan ditahun 90an misalnya, Garuda Indonesia era 1998-2002,berhasil melakukan managemen turnaround yang dikomandani Robby Johan dan dilanjutkan Abdul Gani,yang kondisinya waktu itu sanga parah, dan akhirnya bisa bertahan dan berkembang sampai saat ini.
PT.Telkom yang di tahun 1988 banyak masalah,baik pelayanan maupun pertumbuhan, dan ditangan Cacuk Sudaryanto berubah,baik struktural maupun kultural dalam kurun waktu 4 tahun (1988-1992).
PT.Perum Pegadaian lewat kepemimpinan Sjamsir Kadir 1989-1991 banyak perubahan yang dilakukan,dengan kredo perusahaanya ”mengatasi masalah tanpa masalah”.Ada Irwan Hidayat di PT.Sidomuncul yang mentransformasi jamu tradisionalnya menjadi modern,yang maju seperti sekarang ini,dan masih banyak contoh perusahaan yang berhasil bertransformasi dan melakukan perubahan.
Sekarang kita lihat perubahan dalam tatanan yang lebih luas yaitu negara.Di dunia banyak negara yang melakukan perubahan dengan sukses, seperti yang ditulis dalam buku CHANGE.Singapura di tangan besi Lee Kuan Yew yang memulai tahun 1959,saat itu Singapura negara yang kotor,pengangguran yang mencapai 14%,kas negaranya kosong,dan tidak punya kekayaan alam,namun sekarang menjadi sebuah negara maju.
Lee Kuan Yew melakukan perubahan besar-besaran dan merancang pembangunan ekonomi yang agresif.Beliau dibantu Dr.Goh Keng dan ahli ekonomi, Albert Winsemius dari PBB serta I.F.Tang.Tahun 1960,mereka merumuskan strategi pembangunan ekonomi globalnya yang berorientasi pada keunggulan daya saing dan produktifitas,melalui pemerintahan yang bersih,masyarakat disiplin, dan industrialisasi.
Lalu ada negara Costa Rica berkat kepemimpinan Jose Maria Figueress,yang tadinya hidup dari ekspor pisang dan akhirnya berubah menjadi negara pengekspor mikroprosessor dan alat-alat kesehatan.Hal itu dilakukan berkat bantuan Prof.Michael Porter,ahli bisnis dari Harvard.Pada tahun 1994 Figueress bersama Porter merancang kebijakan-kebijakan makro dengan langkah yang kongkret,sehingga membuat Cost Rica menjadi negara yang competitive.
Bagaimana dengan Indonesia ? Indonesia juga sedang dalam proses menuju perubahan,dengan disahkannya UU Cipta Kerja,diharapkan mampu meniru langkah negara Singapura dan negara maju lainnya.
Walaupun pengesahan UU Cipata Kerja menuai banyak penolakan,itu adalah bagian dinamika menuju perubahan. Negara lain pada awalnya juga mengalami hal yang sama, sebelum mereka maju seperti sekarang.Pil pahit harus kita telan bersama,sebagai obat untuk kesembuhan penyakit.Kita harus melalui proses itu,dari pada kita sakit selamanya.
Perubahan perlu pengorbanan,kerja keras,pantang menyerah dan semangat gotong royong. Mengutip kata-kata bijak Arab,”Man Jadda Wajada”,Siapa yang bersungguh-sungguh,niscaya ia akan berhasil.
Salam bahagia, Majulah Indonesia
IWayB
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI