Di sanalah kami bertemu. Jika Bu Louis memproduksi martabak manis, maka saya menitipkan wingko khas Babat Lamogan di lapak yang sama. Saya akui, usia tak menghalangi produktivitasnya. Setiap kali bersua, ia selalu bersemangat membagikan cerita, mulai dari ibadah di gereja, aktivitas memasak, hingga perjalanan ke Tanah Sucinya.
Martabak mini manifestasi toleransi
Martabak manis bertabur cokelat dan keju buatannya terkenal lezat tiada duanya. Saya pernah mencicipi martabak sejenis di lapak lain tapi rasanya mengecewakan. Walau bentuknya mini, tetapi aroma, rasa, dan teksturnya sangat terjaga.
Dengan pertimbangan itulah saya memintanya agar mau menitipkan martabak manis buatannya di beberapa toko kue selain lapak kue langganan di kompleksnya. Saya yakin martabaknya bisa laris dan akan berdampak pada meningkatnya omzet penjualan.
Karena toko-toko yang saya maksud itu tak bisa ia jangkau dengan jalan kaki, maka saya menawarinya sebagai kurir. Dia gembira luar biasa sebab keluarganya belum punya kendaraan, termasuk motor seperti yang saya miliki. Dia makin senang karena saya tak mengambil margin dari harga jual sehingga keuntungannya tetap utuh.
Sebenarnya dia membolehkan saya menurunkan harga sehingga selisihnya bisa saya ambil, tapi saya rasa itu tak perlu. Bukan berarti saya tak butuh uang, tapi ingin sekali menolongnya karena kondisinya. Dengan atau tanpa margin itu, saya toh tetap akan menyambangi toko-toko untuk menaruh wingko saya sehingga ongkos BBM tetap sama.
Kami adalah bineka
"Saya tahu kita beda agama ya, tapi kita bisa sama-sama Indonesia," ujarnya sewaktu saya berkunjung ke rumah sakit pagi itu. Bukan hanya keyakinan yang berbeda, tapi suku kami pun tak sama. Dia seorang kristiani, sedangkan saya muslim. Saya asli Jawa, dia bersuku Batak.
Namun dalam konteks Indonesia, kami adalah wujud kebinekaan. Kami sama-sama menghirup oksigen di Bumi Pertiwi, sama-sama warga negara yang berusaha mengais rezeki. Kami menghormati keyakinan masing-masing tanpa mengganggu urusan ekonomi.
Karena saya dimudahkanÂ
Jadi ketika martabak manisnya ternyata lebih laris daripada wingko, saya tetap gembira. Saya bersyukur mendapat rahmat berupa sepeda motor dari Allah SWT. Dan fasilitas itu, yang tak dimiliki Bu Louis, membuat saya mudah dan leluasa bergerak---terutama dalam mendistribusikan dagangan. Jadi tak ada kerugian ketika saya membantunya karena faktanya saya lebih dimudahkan oleh Tuhan untuk bergerak.
Ketika kami akhirnya pindah ke Jawa, tentu sedih yang melingkupi. Tak ada lagi martabak manis berbentuk mini dengan parutan keju dan meises yang lezat. Tak ada lagi momen menyambangi rumahnya ketika ada pesanan atau sekadar menyerahkan hasil penjualan setiap pekan.
Setiap orang punya hak untuk memeluk agama tanpa paksaan dari orang lain. Sebagaimana kebebasan untuk menentukan barang dagangan asalkan tidak bertentangan dengan aturan agama dan negara.