Sampai akhirnya, usai shalat Jumat kemarin, nafasnya benar-benar payah. Waktu itu saya kebetulan sedang menemaninya di kamar. Dia minta dirawat di rumah sakit karena sudah tidak sanggup menahan sesak di dada. Dia sempat berpesan agar saya mengikhlaskan kepergiannya dan mendoakannya. Saya mengamininya sambil tetap meyakinkannya akan sembuh seperti sedia kala.
Ibu lalu dibawa ke RS Harapan Bunda.
***
Satu jam berlalu.
Mulut ibu masih komat-kamit. Posisi badannya tidak berubah. Miring ke kanan dengan dua tangan menyatu di bawah kepala. Saya kembali mendekatkan mulut ke telinganya. Ingin memintanya lagi untuk beristirahat sejenak. Karena saya tahu, serangan nafas yang konon disebabkan oleh penyempitan pada paru-paru itu sudah sangat menyiksanya dan membuatnya letih.
Tapi sebelum saya berbisik, tangan kirinya bergerak naik merangkul pundak. Mungkin dia ingin memeluk saya erat, tapi tidak punya cukup tenaga. Mungkin dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada cukup kuasa.
Akhirnya, setelah sekian puluh detik, dia mengendurkan tangannya dan membiarkannya lepas dari pundak saya.
“Bu. Ibu tidur dulu, ya. Istirahat dulu, Bu.”
Saya tidak punya firasat apa-apa saat mengucapkan kata-kata itu. Karena setiap kali ibu masuk rumah sakit, saya dan sepuluh kakak-adik selalu berdoa dan berharap dia lekas sembuh. Dan alhamdulillah selama menjalani beberapa kali rawat-inap, kesehatannya pulih dan dia selalu pulang ke rumah. Pagi itu pun saya yakin ibu akan pulang ke rumah dan bisa kembali beraktifitas seperti biasa.
Setelah suster memeriksa tensi darahnya sekitar pukul tiga pagi, saya masih menemaninya sampai dia tidur. Saya tatap sosok pejuang itu dengan penuh doa dan zikir untuk kesembuhannya. Setengah jam kemudian, suara nafasnya sudah tidak lagi terdengar. Mulutnya tidak lagi komat-kamit. Dia sudah tertidur pulas. Meski nafasnya masih sangat berat. Hati saya lega melihat ibu tidur. Paling tidak dia bisa beristirahat dan mengembalikan energinya yang terkuras.
Karena di rumah sakit ada empat orang yang sedang menjaganya, saya memutuskan untuk pulang ke rumah dan berniat menjaganya esok malam. Tiba di rumah sekitar jam 03:30, saya baru bisa memejamkan mata usai shalat Subuh.