Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Meskipun Pinjol Makin Laris, Kredit Panci Masih Eksis

14 Desember 2021   10:10 Diperbarui: 15 Desember 2021   05:12 1222
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tukang kredit di Sinetron Si Doel Anak Sekolahan|YouTube/RCTI, dimuat pikiran-rakyat.com

Bagi generasi remaja di awal dekade 90-an, tentu banyak yang mengikuti serial sinetron "Si Doel Anak Sekolahan". Ya, sinetron tentang perjuangan Si Doel, si anak Betawi yang jadi tukang insinyur dan dimainkan aktor kawakan Rano Karno, memang fenomenal.

Tapi, tulisan ini tidak membahas soal Si Doel. Ada pemain figuran yang muncul sekelabat, tapi cukup memikat, yakni yang memerankan seorang tukang kredit keliling seperti yang terlihat pada foto di atas.

Yang dikredit berupa barang keperluan rumah tangga seperti panci dan "teman-temannya". Makanya sering juga dijuluki kredit panci.

Jelas, kredit panci termasuk kredit yang boleh dikatakan bergaya tradisional. Kredit ini sangat membantu rumah tangga berpendapatan rendah, karena cicilannya kecil.

Nah, di era sekarang ini yang ditandai dengan maraknya pinjaman online (pinjol), termasuk pinjol ilegal, ternyata kredit panci masih eksis.

Jika pinjol makin laris, tentu dapat dimaklumi, hanya dengan menggunakan aplikasi tertentu, dan dengan persyaratan yang mudah, kredit bisa cepat cair tanpa perlu tatap puka dengan pihak perusahaan pinjol.

Masalahnya, bila nasabah pinjol menunggak pengembalian kredit, jumlah utang makin membengkak dan bisa lebih besar dari kredit semula. 

Akhirnya, nasabah memakai sistem "gali lubang tutup lubang", melunasi pinjaman dengan meminjam lagi ke pinjol yang lain (yang kalau kurang teliti bisa saja meminjamnya ke pinjol ilegal yang beroperasi tanpa izin otoritas yang berwenang).

Menghadapi gerakan lincah penyedia pinjol, saat ini bank-bank papan atas pun tak mau ketinggalan dengan membangun bank digital, setelah sebelumnya juga mengembangkan aplikasi internet banking atau sejenis itu.

Namun demikian, masih ada kelompok masyarakat kelas bawah yang tidak punya smartphone dan merasa lebih nyaman dengan pelayanan kredit bergaya tradisional. Itulah yang disasar tukang kredit keliling.

Soalnya, si tukang kredit memakai sistem jemput bola, datang ke rumah-rumah dan berbekal buku dan pulpen untuk mencatat utang pelanggannya serta cicilan yang telah dibayarkan.

Bayangkan kalau si peminjam datang ke kantor, tidak usah ke bank kelas bawah yang disebut dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), tapi cukup ke kantor Koperasi Simpan Pinjam (KSP).

Nah, untuk ke kantor tersebut, seseorang harus berpakaian layak, tidak mungkin pakai sarung, kaos oblong dan sandal jepit. 

Kemudian, belum lagi diminta mengajukan aplikasi kredit dengan mengisi data, diminta kartu identitas dan ditanya penghasilan rata-rata bulanan, dan sebagainya.

Cara seperti itu yang bikin tidak nyaman warga kelompok marjinal. Makanya, kedatangan tukang kredit keliling, termasuk kredit panci, menjadi semacam dewa penolong bagi masyarakat yang kemampuan ekonominya sangat terbatas tersebut.

Jangan heran, meskipun mungkin jumlah tukang kredit panci makin berkurang, tapi, seperti telah ditulis di atas, mereka masih ada.

Sayangnya, di samping sebagai penyelamat, tukang kredit panci bisa pula membawa celaka bagi pasangan suami istri tertentu.

Contohnya, belum lama ini terkuak peristiwa pembunuhan, di mana seorang istri tewas di tangan suaminya sendiri gara-gara kredit panci.

Peristiwa tersebut terjadi di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Sebelum korban yang bernama Kiki Karwi ditemukan tewas di rumahnya, Senin (28/9/2021), korban sempat bertengkar dengan suaminya, Ade Ahdia.

Lebih lanjut, seperti diberitakan Sindonews.com (28/9/2021), pelaku mengaku kesal terhadap korban karena mengambil kredit panci tanpa sepengetahuannya.

Ribut-ribut di rumah tangga memang ada banyak penyebabnya, dan masalah keuangan termasuk faktor penyebab yang sering muncul.

Bagaimanapun juga, yang namanya utang, sebaiknya diketahui oleh pasangan. Jika istri mau berutang, perlu musyawarah dengan suami dan begitu pula sebaliknya.

Bahkan, seseorang yang meminjam di bank, jika sudah menikah, oleh pihak bank akan mewajibkan pasangannya ikut menandatangani perjanjian kredit.

Sehingga, kalau nanti ada apa-apa, katakanlah salah satu dari suami atau istri itu meninggal dunia atau menderita sakit berat yang lama, pasangannya tidak bisa menghindar untuk ikut bertanggung jawab.

Jadi, mereka yang mau meminjam di lembaga yang bersifat formal atau meminjam secara informal dari tukang kredit keliling, tetap harus diketahui pasangannya.

Satu lagi, ukurlah "bayang-bayang sepanjang badan". Kalau meminjam, pikir dulu, apakah akan mampu mencicil pengembaliannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun