"Maya, cepetan deh kamu tunjukkan siapa pria itu? Supaya ... supaya .... Hmmm .... ."
"Supaya apa Pak?"
"Jangan panggil gue, Pak, dong ... . Panggil Om. Eh ... sama juga ya, Pak dan Om sama-sama kelihatan tua."
"Panggil saja Boss Pipi."
"Maksudnya? Boss Pipi apaan itu?"
"Ah, kamu ini polos banget, Maya. Boss Pipi itu maksudnya Boss sekaligus merangkap Papi. Dan gue akan panggil kamu Mimi. Jadi kita ini sepasang Pipi dan Mimi. Keren tidak?"
"Iiiihhhh Pak Sony, ganjen banget. Seperti ABG saja!"
"Ok, win win solution. Panggil saja gue, Boss. Singkat padat dan tidak menimbulkan multi tafsir berbeda makna. Biar karyawan lain tidak salah paham dengan unsur-unsur kedekatan kita yang mirip perangko."
"Ok Boss." kata Maya singkat biar tidak terlalu berlarut-larut rayuan Sony.
"Ok. Ok Boss. Sudah selesaikan? Jika sudah selesai, saya akan makan siang dulu."
"Eittt, jangan pergi dulu. Kita makan siang bersama-sama. Kamu mau makan apa? Di restoran mana? Tingal bilang saja." kata Sony sambil memegang erat tangan kiri Maya.