4. Khasiat / efek yang berbeda dari yang seharusnya
Ciri ini mungkin baru bisa dikenali ketika kita sudah terbiasa meminum obat tertentu. Jika kita tidak merasakan pengurangan gejala yang signifikan setelah mengkonsumsi obat (padahal biasanya tidak memerlukan waktu lama untuk merasakan khasiatnya), maka perlu dicurigai bahwa kemungkinan obat tersebut palsu. Hal ini bisa terjadi karena kadar bahan aktif obat yang digunakan rendah (substandar) atau bahkan memang tidak ada zat berkhasiat yang dimasukkan ke dalamnya (plasebo).
Dampak Negatif dan Kerugian Akibat Obat Ilegal/Palsu
Ada banyak kerugian yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan dan peredaran obat palsu/ilegal. Tidak hanya kerugian ekonomi, yang paling fatal adalah kerugian kesehatan pasien.
1. Menurunkan/menghilangkan khasiat obat & pasien tak kunjung sembuh
Penggunaan bahan obat (bahan aktif maupun bahan tambahan) yang substandar atau pencampuran bahan lain yang mirip, akan berpotensi menurunkan khasiat obat dan berujung merugikan kesehatan pasien. Pasien menjadi tak kunjung sembuh dari penyakitnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan malah menimbulkan resistensi atau efek samping tertentu. Dan yang lebih fatal dapat menimbulkan keracunan hingga kematian, apalagi jika menggunakan bahan baku yang mirip namun ternyata technical grade (digunakan untuk industri kimia).
2. Biaya pengobatan jadi lebih tinggi
Ketika pasien tak kunjung sembuh, sudah pasti akan meningkatkan biaya pengobatan yang lebih tinggi. Pasien semakin lama harus meminum obat, padahal tidak semua lapisan masyarakat memiliki dana yang cukup untuk pengobatan ketika makan tiga kali sehari saja sulit. Dan yang paling buruk adalah ketika muncul efek samping yang fatal dan menyebabkan pasien harus dirawat di rumah sakit.
3. Kerugian pasar industri farmasi
Peredaran obat palsu sudah pasti akan merugikan industri farmasi. Produk obat yang paling sering dipalsukan biasanya adalah produk yang paling laku di pasaran dan umumnya menjadi backbone penjualan industri farmasi tersebut. Atau bisa juga produk obat untuk penyakit-penyakit yang mengancam nyawa (life-threatening), seperti antimalaria & antiretroviral (HIV). Atau produk-produk obat paten / branded yang harganya memang mahal.
4. Kepercayaan pada Fasyankes dan Fasyanfar menurun