Halaman rumah nampaknya sungguh  sayang kalau disia-siakan. Tanaman produktif untuk pemenuhan kebutuhan dapur layak di lirik, seperti tanaman jeruk. Lebih-lebih untuk mengisi waktu  saat ini, ketika  fase 'Stay at Home'
Varian tanaman Jeruk  memang beragam, sudah tidak asing lagi bagi  masyarakat kita, karena  Jeruk memiliki banyak kegunaan bagi manusia. Jeruk  termasuk  marga Citrus dari suku Rutaceae (suku jeruk-jerukan), yang merupakan tanaman asli asia timur dan tenggara ini memang dikenal untuk mensport kondisi dapur.Â
Buah dengan rasa asam karena banyak mengandung  asam sitrat. Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan genus Citrus itu.
 Di rumah saya ,  saya  memiliki paling tidak  5 jenis tanaman jeruk  yang tumbuh di kebun dekat rumah. Kelima memiliki fungsi yang berbeda. Fungsinya tentuka tak bisa lepas dari cerita tentang  masakan di dapur dan minuman sehari-hari.
Kelima jenis jeruk itu  adalah pertama (1) jeruk sambel (limo), sangat dibutuhkan untuk membuat aroma masakan seperti lawar Bali, plecing kankung, dan sate plecing, keberadaannya sangat membantu berlangsungnya masakan khas bali di rumah saya. Cara menanamnya mudah dan relatif tidak banyak ada penyakitnya.
 Kedua (2) Jeruk keprok, daunnya berbentuk angka delapan, oleh istri saya , sering digunakan untuk membuat penyedap (aroma ) masakan seperti,  kare ayam, dan  gulai, soto ayam dan lain-lain , dan buahnya kerap digunakan untuk  merendam ikan yang hendak di goreng untuk menghilangkan bahu hamisnya. Keberadaannya sangat membantu, dan jeruk ini paling sering  diminati tetangga. Punya tanaman jeruk ini memang membantu sifat sosial kita. Tanpa daun itu rasanya masakan kesenangan keluarga saya kurang pas, seperti soto, dan kare ayam tak nikmat di lidah
Lemon (Citrus limon) sejenis jeruk yang dikenal juga dengan sebutan sitrun, jeruk  sitrun (dari bahasa belanda, citroen), buahnya berbentuk bulat lonjong, ada tonjolan pada ujungnya, warna kulit buah matang kuning cerah, rasanya asam, sepet, sedikit manis.
Sebagai pengajar biokimia dan kimia organik di Jurusan Kimia Undiksha,  maka saya  selalu berkutat dengan  senyawa bioaktif dari tanaman di alam, kegiatan isolasi dan karakterisasi  menjadi santapan sehari-hari. Maka, ketika mahasiswa praktikum,saya biasanya  tidak jauh-jauh mencarikan sampel, cukup dengan  menggunakan tanaman pekarangan sebagai sampel untuk mereka  latihan praktikum  analisis  senyawa bioaktifnya, dan yang paling sering  diteliti adalah  kadar Vitamin C dan senyawa Hesperidinnya yang dominan pada kulit jeruk itu
Apa itu senyawa Hesperidin?
 Hesperidin adalah senyawa yang  banyak menarik perhatian peneliti saat ini karena memiliki sifat yang khas, seperti antioksidan, antiinflamasi, hipolipidemik, vasoprotektif dan tindakan anti kanker dan penurunan kolesterol. Hesperidin juga merupakan inhibitor enzim dan menghambat fosfolipase A2, lipoksigenase, HMG-CoA reduktase dan siklo-oksigenase.
Penghambatan fosfolipase A2 (PLA2)  apa itu? Suatu enzim yang  umumnya ditemukan di jaringan mamalia serta arakhnida, serangga, dan bisa ular.  Racun  ular dan serangga sebagian besar terdiri dari melittin, yang merupakan stimulan dari PLA2. Karena peningkatan kehadiran dan aktivitas PLA2 yang dihasilkan dari gigitan ular atau serangga, asam arakidonat dilepaskan dari membran fosfolipid secara tidak proporsional. Akibatnya, peradangan dan rasa sakit muncul di lokasi  tempat gigitannya itu.
Hesperidin menjadi andalan melumpuhkan kinerja PLA2, artinya hesperidin itu dapat digunakan sebagai penawar  bisa ular dan racun dari serangga.
Secara struktur hesperidin adalah  senyawa bioaktif  polifenol  pada kelas flavanon glikosida. Senyawa glikosida adalah senyawa bahan alam yang terdiri atas gabungan dua bagian senyawa, yaitu gula dan bukan gula. Bagian gula biasa disebut glikon sementara bagian bukan gula disebut sebagai aglikon.
Senyawa  Hesperidin ini, ditemukan oleh Kimiawan Perancis  tahun 1828, Lebreto, senyawa itu disolasi  dari lapisan dalam kulit jeruk (mesocarp, albedo). Temuannya dimuat dalam Journal de Pharmacie et de Sciences Accessories, dengan judul "Sur la matiere cristalline des orangettes, et analyse de ces fruits non encore developpes, famille des Hesperidees". Hesperidin diyakini berperan dalam pertahanan tanaman.
Menurut Li C1, dan Schluesener H (2017)  yang melaporkan temuannya tentang  Hesperidin bermanfaat bagi kesehatan, hal tersebut telah dilakukan lewat  uji praklinis dan uji klinis ternyata menunjukkan efek terapi hesperidin dan hesperetin aglikonnya dalam berbagai penyakit, seperti gangguan neurologis, gangguan kejiwaan, dan penyakit kardiovaskular dan lain-lain, karena sifat anti-inflamasi, antioksidan, penurun lipid, dan kepekaan terhadap insulin, tentu berita ini khabar menyenangkan bagi mereka yang  suka mengkonsumsi jeruk
Khabar baik lainnya adalah hasil penelitian  Tabeshpour, dan kawan-kawan  (2020)terhadap senyawa hesperidin , tepatanya adalah  flavanone hesperidin.
 terjadi sifat hepatoprotektifnya melalui mekanisme yang berbeda termasuk peningkatan aktivitas elemen respons seperti faktor 2 / antioksidan dan heme oksigenase  serta tingkat antioksidan enzimatik dan non-enzimatik. Lebih lanjut, pengurangan kadar protein kelompok mobilitas tinggi pada penghambat protein-alpha kappa B, matriks metalloproteinase-9 dan protein C-reaktif adalah beberapa mekanisme hepatoprotektif penting yang diturunkan dari hesperidin. Artinya adalah, hesperidin mampu melindungi terhadap kerusakan hati dari peradangan dan / atau racun alami dan racun kimia yang dimediasi oleh stres.
Senyawa esperidin dari kulit jeruk mencuat ketika demam COVID-19 merebak, senyawa ini ditengarai dapat berfungsi sebagai menjaga stamina tubuh, sehingga tidak mudah terserang virus yang mengerikan itu.
Lalu,  bagaimanakah caranya mengisolasi  Hesperidin itu? Maaf agak panjang jadi tulisannya, namun masalah  ini penting  untuk dijawab,  agar mahasiswa saya  dapat melihat lebih banyak  kompasiana.com, sehingga mereka tertarik untuk menulis juga  sehingga kompasiana lebih rame.
ISOLASI SENYAWA HESPIRIDIN
Hesperidin dapat diisolasi dengan dua cara : (a) cara ekstraksi, yakni mengekstraksi kulit jeruk kering dengan petroleum eter dan metanol. Pelarut pertama menghilangkan minyak atsiri dan yang ke dua menghilangkan glikosida. Â (b) kulit jeruk yang dipotong-potong diekstrak dengan alkali (basa) Â dan ekstrak diasamkan. Hesperidin dapat dimurnikan dengan penambahan formamida-arang yang diaktifkan, disebabkan ketidak larutannya yang tinggi, bentuk kristal alami hesperidin merupakan salah satu flavonoid yang paling mudah diisolasi.
Tahap kedua adalah pembuatan ekstrak metanolik kulit buah jeruk/Serbuk dari masing-masing kulit buah jeruk ditimbang 250 g, dibungkus dan dimasukkan ke dalam lengan alat soxhlet. Soxhletasi dilakukan menggunakan pelarut petroleum eter (800 mL)  sampai mendidih. sebanyak 800 mL petroleum eter (40 - 60 C) diisi dalam labu alas bulat 250 mL diaduk dengan  batang pengaduk magnet
Selanjutny ekstraktor Soxhlet dan ditutup dengan sedikit wol kaca.  Kondensor refluks diletakkan pada unit ekstraksi Soxhlet, dan kemudian campuran reaksi diaduk dan dipanaskan selama 4 jam. Hasil ekstraksi diletakkan dalam tempat untuk proses  kristalisasi yang luas. Setelah itu zat ditempatkan kembali dalam selongsong ekstraksi dan, seperti sebelumnya, tetapi dengan 800 mL metanol, diekstraksi selama 1 hingga 2 jam.
Setelah ekstraksi Soxhlet lengkap dan maserasi, filtrat kemudian diasamkan (pH 3-4) dengan asam asetat 6%, Simpan cairan residu pekat dalam lemari es (4-6C) satu malam, maka  kristal hesperidin akan  muncul. Lakukan
penyaringan  dengan corong pisah Buchner , maka akan didapatkan bubuk amorf.
Lalu apakah senyawa Hesperidin itu  benar-benar  didapatkan?  Untuk memastikannya lakukan pengujian  dan karakterisasi  melalui uji fisik dn analitik.
sebagai referensi  Hesperidin berbentuk  jarum putih setelah rekristalisasi. Kisaran titik lebur adalah  242-244C. Warnanya coklat kekuningan dengan bau  aromatik dan khas, Dari sampel 250 gram kulit jeruk biasanya dihasilkan  sekitar  1,75 gram
Uji di atas masih secara fisik, lalu dilakukan uji penegasan dengan uji analitik , yaitu  dengan  Tes besi klorida ( ferric chloride) akan terbentuk warna merah anggur.Â
Dengan  Tes Shinoda akan menghasilkan warna violet merah muda cerah. serta dengan kromatografi lapis tipis: [n-butanol: Asam Asetat: Air (4: 1: 5)] satu tempat diamati dan nilai Rf ditemukan sekitar  0,48.  Terima kasih,  moga bermanfaat****
Referensi
1. Tejada, S., Pinya , S., Martorell, M., Cap, X., Tur, J. A., Pons, A., & Sureda, A. (2017). Potential anti-inflammatory effects of hesperidin from the genus Citrus. Current Medicinal Chemistry, 24. doi:10.2174/0929867324666170718104412
2. Tabeshpour, J., Hosseinzadeh, H., Hashemzaei, M., & Karimi, G. (2020). A review of the hepatoprotective effects of hesperidin, a flavanon glycoside in citrus fruits, against natural and chemical toxicities. DARU Journal of Pharmaceutical Sciences. doi:10.1007/s40199-020-00344-x
3. Chaudhry, V. K., Hussain, Z., Pandey, A., Khan, R., & Srivastava, A. K. (2016). Isolation and characterization of hesperidin from the dried orange peel. International Journal of Research in Pharmacy and Science, 6(2), 15-18.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H