Oleh karena kemungkinan adat itu diterima sebagai hal yang normal, maka saat liburan beberapa waktu lalu misalnya, saya memperoleh ayam sebanyak 43 ekor.
Lho banyak sekali kan, lalu gimana caranya memelihara ayam-ayam itu. Tentu saja, ayam-ayam itu sebagiannya akan menjadi santapan keluarga untuk menjamu para tamu di rumah.
Sebagian ayam itu pasti akan dipelihara oleh ibuku. Memelihara ayam yang sudah besar dari orang lain itu tidak mudah, apalagi yang memberikan ayam itu adalah dari tetangga di kampung yang sama.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjadikan ayam yang sudah besar dari pemberian saudari dan keponakan itu menjadi jinak di rumah.
Ibuku berdiri di tengah halaman rumah
Perhatian saya yang tidak terlupakan dari kebiasaan dan hobi ibuku adalah bahwa setiap kali dia memberi makan ayam, ia berdiri di tengah halaman, lalu memegang mangkuk kecil yang berisi jagung.
Ibuku rupanya sudah tahu dengan jelas mana ayam yang jinak dan mana ayam yang liar. Nah, oleh karena itu, sebetulnya ia berdiri di tengah, namun dengan konsentrasi yang tidak terfokus hanya pada satu posisi.
Arah pandangannya kadang berubah-ubah ke segala arah. Rupanya ia sedang mencari-cari, mana ayam yang masih merasa asing dan belum memperoleh bagian jagung sebagai sarapan pagi.Â
Tidak heran terlihat, ibuku membuang jagung beberapa arah. Satu hal yang pasti bahwa ia membuang jagung pertama-tama ke arah kiri untuk ayam-ayam yang sudah jinak.
Semua ayam-ayam itu akan berkerumun di sana. Ketika itu juga, ia melemparkan beberapa biji jagung saja ke arah ayam yang masih jauh-jauh, ya masih merasa asing dengan ruang halaman rumah.
Posisi ibuku itu ibarat seorang penengah