Kasus HIV/AIDS yang dilaporkan atau terdeteksi digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi di masyarakat digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut (Lihat gambar).
Di bagian lain berita tersebut Silvia mengatakan: "Mahasiswa termasuk pekerjaan sebanyak 6,9 persen, jadi di bawah sebetulnya. Tapi yang menjadi perhatian adalah mahasiswa, karena termasuk usia produktif dan pemuda harapan bangsa, mungkin seperti itu .... "
Secara empiris mahasiswa ada di terminal terakhir ketika tertular HIV/AIDS karena mayoritas dari mereka tidak mempunyai istri. Sedangkan karyawan swasta bisa jadi sebagian besar mempunyai istri sehingga ada risiko horizontal penularan HIV/AIDS. Buktinya, ada 664 ibu rumah tangga yang tertular HIV/AIDS.
Ibur rumah tangga itu berisiko menularkan HIV/AIDS ke bayi yang dikandungnya kelak, atau ke laki-laki lain jika dia bercerai atau suaminya meninggal. Tapi, kondisi ini tidak jadi 'makanan' media karena tidak seksi.
Kalau mhasiswa, seperti dikatakan Silvia, termasuk usia produktif dan pemuda harapan bangsa, maka ibu-ibu rumah tangga itu juga akan melahirkan anak untuk dibesarkan jadi harapan bangsa. Tapi, jika mereka lahir dengan HIV/AIDS bukan harapan bangsa tapi jadi beban bangsa karena sejak lahir mereka sudah membutuhkan perawatan dan pengobatan terkait dengan penyakit yang ditimbulkan infeksi HIV/AIDS.
Sedangkan soal usia produktif adalah hal yang realistis banyak yang tertular HIV/AIDS karena di rentang usia itu libido (hasrat seks) tinggi dan mereka punya uang membeli seks. Libido tidak bisa diganti dengan kegiatan selain hubungan seksual (penetrasi) atau swalayan (onani pada laki-laki dan masturbasi pada perempuan).
Yang membuat mahasiswa itu celaka yaitu tertular HIV/AIDS karena mereka terperangkap atau termakan mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS.
Baca juga: Ratusan Mahasiswa Bandung yang Tertular HIV/AIDS karena Terperangkap Mitos
Sejak awal pandemi, 40 tahun yang lalu, sampai sekarang materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang HIV/AIDS selalu dibalut dengan norma, moral dan agama sehingga menghilangkan fakta medis dan menyuburkan mitos.
Misalnya, yang ada dalam berita: " .... faktor risiko yang menyebabkan HIV .... 39 persen di antaranya akibat seks bebas .... "