Mohon tunggu...
Galih Prasetyo
Galih Prasetyo Mohon Tunggu... Lainnya - pembaca

literasi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Hari-hari Sebelum Meletusnya Tragedi Berdarah 01 Oktober 1965

4 September 2018   00:00 Diperbarui: 4 September 2018   01:06 1098
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebagai tambahan, (KALIMAT DISENSOR) PKI melaporkan bermaksud berunjuk rasa melawan Kedubes AS di Jakarta. Sebuah 'pusat kendali' untuk aksi ini sudah dibuat di belakang rumah dinas Menlu Subandrio. Subandrio menunjukan sikap tidak tahu malu kepada Dubes Green kemarin, dengan meminta Green yakin kalau perusakan properti milik AS atau pelecehan terhadap pegawai AS akan dihindari." tulis laporan tersebut.

Yang menarik dari laporan tersebut ialah tertanggal 1 dan 13 September 1965 tertulis disensor seluruhnya. Entah apa yang tertulis di laporan tersebut di dua tanggal tersebut.

Dari laporan tersebut, kita sebenarnya bisa melihat bagaimana kepanikan dan kalimat hiperbola yang tertuang mengenai kondisi Indonesia sebelum peristiwa G30S meletus. Pihak CIA sepertinya ingin agar laporan tersebut bisa langsung diputuskan oleh pemerintahnya dengan langkah tepat. Maka kemudian tak salah jika pernyataan dari perwira intelejen AURI, Letkol Heru Atmodjo yang menyebut bahwa ada peran besar dari para pejabat intelejen dan diplomat Amerika Serikat sebelum G30S meletus ada benarnya.

Dalam wawancara dengan penulis beberapa tahun lalu, (Alm) Letkol Heru Atmodjo memaparkan bagaimana peristiwa 1 Oktober 1965 sangat bertautan dengan peristiwa yang terjadi selama perang dingin. Ia juga menjelaskan bagaimana keterlibatan Amerika Serikat merancang peristiwa ini untuk menjatuhkan dua kekuataan sekaligus yaitu Soekarno dan PKI.

Menurut keterangan Heru Atmodjo, para pejabat Amerika Serikat yaitu ; Averell Harriman, William Bundy, Howard P. Jones, mantan Duta Besar untuk Indonesia, dan Elsworth Bunker, Utusan Khusus Presiden Lyndon B. Johnson, dengan pangkat Duta Besar melakukan pertemuan pada bulan Marer 1965 di Manila, Filipina membicarakan rencana untuk melakukan aksi menjatuhkan PKI dan Soekarno.

Kesimpulan akhir pada pertemuan ini ialah bagaiaman merancang suatu aksi untuk memancing PKI menggali lubang kehancurannya sendiri, dan menjatuhkan Soekarno dari tampuk kekuasaan. Amerika Serikat kemudian merancang suatu aksi yang kemudian dijalankan oleh para perwira militer yang pro Amerika Serikat dan anti Komunis.

Dari keterangan Heru Atmodjo ini jika di bandingkan dengan fakta-fakta yang diungkapkan oleh John Roosa dalam bukunya "Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September, Kudeta Soekarno" terdapat kesamaan yaitu adanya sebuah aksi yang memang sengaja dirancang untuk gagal yang kemudian berakibat kepada hancurnya PKI dan Soekarno. 

Di dalam bukunya John Roosa memaparkan bagaimana terjadinya persekutuan AD dengan Amerika Serikat, pasca kegagalan pemberontakan PRRI/Permesta yang dibiayai oleh CIA membuat Amerika Serikat mengubah arah politiknya.

Amerika Serikat mulai memperhalus strateginya untuk menghancurkan Soekarno dan PKI. Di dalam sebuah dokumen Dewan Keamanan Nasional (NSC) mengenai laporan khusus tentang Indonesia pada Januari 1959, dipaparkan bahwa Presiden Eisenhower untuk terus memperkuat hubungan AS dengan tentara Indonesia anti komunis agar institusi ini mampu memerangi kiprah kaum komunis.

Bermula dari hal itulah kemudian banyak perwira AD yang mengikuti program militer di AS di sekolah-sekolah seperti di Fort Bragg dan Fort Leavenworth. Amerika Serikat bahkan dari tahun 1958 -- 1965 memberikan bantuan dana sebesar $10 - $ 20 juta kepada militer Indonesia khususnya kepada AD.

Kondisi ini tent saja juga membuat PKI yang saat itu dipimpin tokoh mudanya yang oportunis, Dipa Nusantara Aidit mengambil tindakan provokatif juga kepada tubuh AD. Perseturan AD dengan PKI ini semakin memanas beberapa hari menjelang terjadinya 1 Oktober 1965, pada permulaan tahun 1965 Jenderal Yani di depan Resimen Yogya menerangkan hanya ada satu partai Pancasila, dan alat penghubung dengan massa yang dapat diandalkan oleh AD yakni SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun