Mbok yang melihat itu terkekeh geli. "Sudah-sudah, ndak perlu rebutan toh, sini-sini peluk Mbok semua," ujar Si Mbok disertai rengkuhan yang diberikannya pada Aurel.
Perlakuan Mbok Ningsih membuat Agnesh dan Aurel tersenyum bahagia, sejak berusia 7 tahun keduanya sering bermain-main ke rumah Si Mbok hanya untuk sekedar menyesap teh jahe buatan Mbok Ningsih yang sangat lezat. Tanpa sepengetahuan orang tuanya masing-masing tentunya.
"Agnesh kalau nanti aku nggak kesini lagi, kamu harus sering-sering kunjungi Mbok ya," ujar Aurel waktu itu dengan kalimat candaannya.
Tangisan Agnesh semakin menjadi saat mengingat-ingat momen bersama Aurel. Mendengar isak tangis yang semakin menjadi itu,Â
Mbok melepaskan rengkuhan Agnesh dibadannya dan berusaha menghadapkan tubuh gadis itu menghadap dirinya.
"Nduk Agnesh, Nduk kenapa nangis toh?" tanya Mbok Ningsih dengan tangan yang menggenggam kedua tangan Aurel.
Agnesh semakin menangis histeris. "Aurel Mbok, Aurel..."
Mbok Ningsih semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan Agnesh, tetapi melihat Agnesh yang semakin menangis histeris dan kedatangan gadis itu yang hanya seorang diri membuktikan bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja.
Mbok Ningsih kembali memeluk tubuh Agnesh untuk meredakan kesedihan yang gadis itu rasakan. Beberapa saat kemudian, Agnesh melepaskan pelukannya, matanya kembali sembab karena menangis. Mbok Ningsih tersenyum, senyum yang memiliki banyak makna.
"Sudah mau cerita ke Mbok?" tanya Mbok Ningsih melihat Agnesh yang sudah lumayan tenang walau masih sesegukan.
Agnesh mendongakkan kepalanya. "Maafin Agnesh Mbok, Agnesh gagal," ujarnya seraya menundukkan kepalanya kembali.
"Gagal kenapa Nduk? Jangan setengah-setengah atuh kalau cerita sama Mbok," sahut Mbok Ningsih.