Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Tutor - Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Minimnya Proses Editing BKS dari Blog Pribadi

1 Mei 2018   21:29 Diperbarui: 2 Mei 2018   06:33 839
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Belum lagi penggunaan tanda tanya, tanda seru, tanda titik dua, dan tanda petik yang tidak pada tempatnya. Banyak ditemukan pula penggunaan kata tidak baku di dalam kalimat. Padahal, pengenalan kata baku dan tidak baku serta penggunaan tanda baca, termasuk salah satu kompetensi dasar muatan Bahasa Indonesia yang juga masuk dalam kisi-kisi soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).

Kesalahan ejaan yang cukup banyak ditemukan. Diambil dari BKS Kelas 5 Tema 2- Dokumen Pribadi
Kesalahan ejaan yang cukup banyak ditemukan. Diambil dari BKS Kelas 5 Tema 2- Dokumen Pribadi
Penulisan simbol Karbon dioksida yang kurang tepat dan tidak konsisten - Dokumen Pribadi.
Penulisan simbol Karbon dioksida yang kurang tepat dan tidak konsisten - Dokumen Pribadi.
Namun sebenarnya, masalah kesalahan tanda baca dan ejaan ini akan memberi dampak bagi siswa dalam jangka panjang. Artinya, jika mereka terus mendapat kesalahan konsep berulang yang dipelajari setiap hari tanpa adanya bimbingan dari guru, apa jadinya dengan usaha belajar yang mereka lakukan?

 Maksudnya begini, di dalam pemahaman siswa akan terpatri konsep ilmu bahasa yang salah dan itu tak menjadi masalah. Toh guru-guru mereka juga tak memberi usaha untuk membenarkan kesalahan tersebut. Kebanyakan guru akan senantiasa langsung membahas latihan soal di dalam BKS padahal jelas-jelas siswa mencari jawaban dari bacaan dari BKS. Kalau sudah begini, siapa lantas yang mau bertanggung jawab?

Beberapa masalah mengenai bahan bacaan di dalam BKS juga termasuk tidak konsistennya isi bahan bacaan dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai sehingga bahasan melenceng jauh. Pergantian muatan pembelajaran yang terjadi secara tiba-tiba, dan beberapa masalah lain juga seringkali muncul. Nah, mungkin timbul pertanyaan, mengapa masalah ini kerap terjadi?

Kesalahan konsep dan pergantian muatan secara tiba-tiba. Diambil dari BKS Kelas 5 Tema 2. - Dokumen Pribadi
Kesalahan konsep dan pergantian muatan secara tiba-tiba. Diambil dari BKS Kelas 5 Tema 2. - Dokumen Pribadi
Penelusuran saya berlanjut dengan mencari tahu cara kerja tim penulis BKS ini. Menurut rekan saya yang pernah mengikuti proyek pembuatan BKS ini, ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum BKS benar-benar tercetak. Guru-guru yang telah terpilih untuk menulis BKS akan mendapat semacam pelatihan singkat. Lalu, mereka akan dibagi dalam beberapa tim. Satu tim terdiri dari 3-4 orang dengan tingkatan kelas yang sama. 

Masing-masing tim akan membuat BKS dalam 1 tema. Setiap tema terdiri dari 3 hingga 4 sub tema. Tiap orang akan mengerjakan bahan materi dan soal latihan beserta kunci jawaban dalam satu sub tema. Setiap tema terdiri dari 3 hingga 4 sub tema. Dari tiap tim ini, satu orang akan bertugas mengumpulkan seluruh bahan materi BKS sebelum diserahkan ke pengawas untuk dilakukan penyuntingan. Melihat tahapan ini, sebenarnya ada beberapa tahapan editing yang bisa dimaksimalkan oleh tim penulis BKS.

Alur kerja pembuatan BKS. - Dokumen Pribadi
Alur kerja pembuatan BKS. - Dokumen Pribadi
Tak hanya itu, sebenarnya para penulis BKS telah mendapat bimbingan dari pihak terkait sebelum penulisan BKS dilakukan. Sayang, meski telah mendapat banyak materi dari kegiatan tersebut, masih cukup banyak penulis yang tidak  memperhatikan syarat didaktik dan konstruksi pembuatan BKS yang baik, seperti adanya perbedaan individual, menekankan pada proses untuk menemukan konsep-konsep, adanya variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan peserta didik, serta pengembangan kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral, dan estetika pada diri peserta didik.

Penulis BKS juga sering tidak mengindahkan hal-hal teknis seperti penggunaan huruf tebal untuk topik, batasan maksimal 10 kata dalam satu baris, pemberian bingkai/pembatas untuk membedakan kalimat perintah dengan jawaban siswa, struktur kalimat yang jelas, serta kurang memperhatikan perbandingan besarnya huruf dengan gambar pendukung. Yang paling penting, penulis BKS juga harus memahami pentingnya menelaah kembali sumber informasi bacaan terutama dari blog.

Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Satu hal yang cukup disayangkan adalah peran kelompok kerja pengawas sebagai editor penulisan BKS ini. Seharusnya, sebelum BKS dikirim ke penerbit dan percetakan, mereka menyunting isi BKS dengan sebaik-baiknya. Jika tidak memungkinkan, semisal masalah waktu yang mepet atau tenaga yang kurang, tim editor dapat bekerja sama dengan pihak lain. Guru, Kepala Sekolah, atau pihak yang berkompeten dapat dilibatkan dalam kegiatan ini. 

Mereka dapat memastikan kualitas bacaan dan isi BKS apakah sesuai dengan standar dan kompetensi dasar yang diharapkan. Jangan sampai ada lagi kasus penarikan BKS akibat kata-kata tak pantas atau hal-hal lain yang mencederai dunia pendidikan.

Padahal sejatinya, keberadaan BKS dari Dinas Pendidikan ini sangat membantu siswa terutama dari kalangan tidak mampu untuk dapat memiliki BKS tanpa dikenakan biaya sepeser pun. Meski begitu, tidaklah pantas jika apa yang gratis bisa menjadi murahan. Kualitas tetap harus diutamakan karena menyangkut masa depan generasi penerus bangsa. Mendapat BKS yang berkualitas juga menjadi hak asasi siswa-siswi dalam memperoleh pendidikan yang baik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun