Untung ada Jed, walau pun Rein merasa mandiri selama ini, tapi untuk berjalan menuju kosan Lea sendirian di malam buta seperti ini adalah hal yang bisa membuatnya sedikit merinding. Ia menghela nafas panjang.
Setelah menghabisakan satu mangkok capcay tanpa nasi, Rein akhirnya mengajak Jed untuk kembali menyusuri jalanan yang suasananya temaram.Â
Kakinya sudah mulai terasa pegal, perjalanan ke kosan Lea masih beberapa kilometer lagi. Â Rein menyeret kakinya yang mulai terasa berat.
Mereka tengah berjalan pelan ketika sebuah kendaraan berhenti mendadak di samping mereka. Seseorang keluar dengan langkah yang tergesa, memutar menuju ke arah mereka berdua, yang  membuat mereka sangat terkejut.
"Rein, ayo naik!" Shia mencengkram lengan Rein kuat-kuat.
"Kamu dari mana, aku tunggu kamu .." Rein memberondong Shia dengan pertanyaan yang diacuhkan Shia.
"Gak usah banyak tanya, ayo masuk!" Shia menyeret Rein dan memasukkannya ke dalam kendaraannya.
"Shi gak usah kasar gitu lah," protes Jed.
"Ngapain kamu ikut ribut." Sahut Shia sinis.
"Bukan ribut, kan kamu sendiri yang ninggalin dia."
"Ah berisik, kamu bukan siapa-siapanya dia dan gak akan pernah!" Shia berbisik di telinga Jed. Lalu dengan cepat masuk ke dalam kendaraan dan membanting pintunya dengan keras.