Nirmala tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan konyol dari Nawasena. Hampir lima menit Nawasena menikmati bagaimana Nirmala menertawakannya.
“Nirmala sudah.”
“Nawasena, aku anak dari raja Carong asal kau tahu. Putri dari Ibu ratu Prianka, kau tak boleh lupa bagaimana keras keduanya. Dan kali ini aku sudah terbebas dari mereka. Aku tak perlu berpura pura menjadi kacung hanya untuk menghirup bagaimana segarnya Gayatri dan menemuimu. Senang sekali. Aku bisa pergi kemanapun, Sena. Aku tak perlu khawatir bagaimana perasaan Ayahku ketika tahu aku sering menemuimu dan jatuh hati padamu. Membayangkan kalau aku menerima lamaranmu waktu itu saja membuatku sesak. Aku bebas Sena. Aku bebas.”
Seakan bertolak, Nirmala menangis. Ia tak menjelaskan kalau ia begitu senang. Ia meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri sambil mengucap aku bebas, sena.
Nawasena memeluk tubuh kecil itu yang sudah tampak sesak sekali. Nirmala meringik kesakitan, ia tak terima.
“Aku tidak memerlukan pengakuan itu Mala. Aku tidak memerlukannya.”
Tubuhnya semakin bergetar, tangisnya benar-benar pecah lagi.
“Pergilah, Sena. Akan ku hadapi ini dengan sisa-sisa tenagaku. Aku tidak apa.” Ujar Nirmala dengan menenangkan dirinya.
“Ikutlah denganku.”
“Tidak. Kau sudah mendeklarasikan jikalau aku sudah mati. Biar aku dikubur sepi di sini. Pulanglah, banyak yang kau cintai daripada aku di dunia yang sempit ini.”
Keduanya bersikeras pada pilihannya masing-masing, namun berujung Nirmala lagi-lagi kalah dengan Nawasena.