Menjadi titik kunci adalah program kerja harus dibutuhkan oleh masyarakat, bukan atas dasar keinginan volunteer semata.
Bayu Agustian, salah satu calon pengabdi sekaligus peserta diskusi yang mendaftar fully funded dari Bengkulu, lantas bertanya: "Bagaimana cara menghadapi situasi yang tidak sesuai ekspektasi?"
Figo menanggapinya dengan menyarankan musyawarah bersama untuk mencari jalan keluar. Ia menekankan pentingnya menurunkan ego dan berdiskusi secara kolektif untuk menemukan solusi yang terbaik bagi semua pihak.
Jika kita membuka kembali buku Mengorganisir Rakyat ... yang ditulis oleh Jo Hann Tan dan Roem Topatimassang, merancang program dimulai dengan menganalisis keadaan pada skala makro maupun mikro.
Langkah ini melibatkan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) untuk mempermudah pengambilan keputusan dan menyusun program.
Dengan melakukan analisis SWOT, para pengabdi dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari program yang diusulkan, serta peluang dan ancaman yang ada di lingkungan sekitar.
Hal ini membantu dalam merencanakan strategi yang tepat dan efektif untuk mencapai tujuan program dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Maka, secara teknis, pengabdian kepada masyarakat ibarat sebuah seni, sebab dapat dikreasikan dari ide, pengalaman, dan pengambilan keputusan.
Menurut Roem Topatimassang, tahap yang tidak boleh diabaikan oleh para volunteer adalah melakukan penataan organisasi.
Ada tiga pendekatan yang umumnya dikenal dalam pembangunan masyarakat.
Pertama, Pendekatan Community Development adalah pembangunan masyarakat untuk meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan.