Pemanfaatan Video Pembelajaran dan Media Kantong BilanganÂ
Untuk Meningkatkan Kemampuan Memahami Konsep Nilai Tempat BilanganÂ
Pada Peserta Didik Kelas IV Tunagrahita di SD Negeri Petoran Surakarta
Tahun 2022/ 2023
Anak tunagrahita merupakan anak yang mengalami keterlambatan dalam kemampuan sensomotorik, sukar berfikir abstrak dan logis, kurang memiliki kemampuan analisa, asosiasi lemah, kurang mampu mengendalikan perasaan, mudah dipengaruhi dan kepribadian kurang harmonis karena tidak mampu menilai baik dan buruk. Meskipun anak tunagrahita mengalami kesukaran dalam berfikir abstrak, tetapi masih dapat mengikuti pelajaran di sekolah inklusi dengan berbagai akomodasi serta pendampingan. (Ardiyanto, Priyo : 2012)
Namun terdapat beberapa kendala yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran . Beberapa kendala yang menjadi latar belakang dari masalah dalam kegiatan pembelajaran kali ini antara lain :
Kurangnya kemampuan peserta didik tunagrahita dalam berfikir abstrak, sehingga menjadikan mereka sulit membayangkan sesuatu misalnya konsep nilai tempat . PDBK tunagrahita memerlukan hal yang konkrit / riil (nyata) dalam pembelajaran supaya lebih mudah dalam memahami materi.
Kurangnya pendampingan khusus dari guru bagi PDBKÂ tunagrahita yang ada di dalam kelas sehingga sulit dalam memahami materi yang disampaikan guru.
Kurangnya pemahaman guru terhadap kondisi PDBK tunagrahita, sehingga sering kali materi yang disampaikan untuk PDBK disamakan dengan peserta didik reguler lainnya.
Media yang digunakan guru dalam pembelajaran kurang menarik atau bahkan tidak menggunakan media saat pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran tidak menyenangkan dan rendahnya nilai peserta didik di mata pelajaran matematika khususnya di materi niai tempat bilangan. (sering kebolak-balik dalam menentukan nilai tempat bilangan)
Dari latar belakang tersebut dapat disimpulkan bahwa yang menyebabkan prestasi peserta didik rendah di mata pelajaran matematika khususnya di materi nilai tempat suatu bilangan yaitu kurangnya pemahaman PDBK tunagrahita dalam berfikir abstrak, kurangnya pendampingan khusus pada PDBK tunagrahita, kurangnya pemahaman guru terhadap PDBK Â tunagrahita, Â penggunaan media pembelajaran dan metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru kurang inovatif dan bervariatif sehingga peserta didik merasa jenuh dan bosan terhadap pembelajaran.