Sepasang suami istri berjalan melintas di sebidang tanah yang telah terbangun sebuah hotel megah. Lokasinya dekat sekali dengan rumah mereka. Dahulu, sang istri tertarik untuk membeli tanah itu.
"Iya, kan, Pa, apa Mama bilang? Coba kalau dulu kita beli tanah itu. Harganya masih murah. Sekarang per meter persegi melonjak seribu kali lipat! Papa sih gak mau dengarin Mama!" kata istri sambil sedikit menyesal.
"Sudahlah, Ma. Apa yang sudah terjadi dahulu, tidak usah dibandingkan dengan sekarang. Dahulu, kita pun tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang. Siapa yang mengira investor itu akan membeli tanah dengan harga semahal itu?" jawab sang suami sembari berusaha menghibur diri.
Adakah Anda seperti itu suatu saat? Berbicara dengan orang tentang perbandingan keadaan antarmasa? Mengingat-ingat seandainya dahulu dilakukan, maka sekarang untung banyak?
Atau, kecewa karena sekarang tidak melakukan, dengan tahu bahwa keadaan dahulu lebih mudah terjangkau dan kita sangat berkuasa melakukannya. Ya, sekali waktu tidak bisa dimungkiri, kita pernah membanding-bandingkan keadaan antarmasa.
Kebiasaan orang tidak suka dengan keburukan
Untuk penjelasan selanjutnya, saya akan pakai ilustrasi sederhana.Â
Sepuluh tahun lalu (baca: masa lalu), seorang lelaki bujang masih tinggal sendiri di indekos. Sekarang, ia telah menikah dengan seorang wanita pujaan hatinya dan memiliki dua orang anak.
Apakah Anda setuju bila saya berpendapat bahwa sebagian besar kita lebih mudah mengingat keburukan daripada kebaikan? Bahkan ada peribahasa: karena nila setitik rusak susu sebelanga.
Panas setahun dihapus hujan sehari. Kebaikan yang begitu limpah sepanjang hidup dilupakan oleh sebab satu keburukan yang terjadi, entah sengaja atau tidak.
Lelaki itu jengkel. Ternyata, setelah menikah, wanita yang begitu sayang dan perhatian padanya semasa pacaran, berubah total menjadi pencemburu dan suka ngomel.
Ia tidak tenang hidupnya selama di rumah. Segala perbuatannya dicurigai, bak tersangka. Ia berpikir, "Ah, lebih enak ternyata waktu saya jadi lajang dahulu. Tidak ada yang komentar. Saya lebih bebas."
Ia mulai membandingkan keadaannya setelah menikah dengan sewaktu bujang. Keburukan masa kini dibandingkan dengan kebaikan masa lalu.
Setiap masa ada baik buruknya
Begitulah, ketika orang sedang kesal, mata dan nuraninya sulit melihat kebaikan. Percaya atau tidak? Lelaki itu tidak ingat, sekarang sudah ada wanita yang menemaninya.
Ia tidak diejek lagi oleh kawannya sebagai bujang lapuk. Ada yang menata dan menyiapkan pakaian kantornya. Rumah yang dia beli bersih tertata rapi di tangan istri. Anak-anak terasuh dengan baik.
Hanya karena pencemburu dan suka ngomel, kebaikan-kebaikan istrinya luput dilihat. Ia lebih memilih mengulas kebaikan pada keadaan masa lalu.
Ya, setiap masa ada baik buruknya. Waktu sendiri dulu, ia memang bebas ke mana-mana, tetapi ia tidak ada yang menopang saat jatuh. Ia sendirian. Ia terpuruk tanpa ada orang dekat yang menolong.Â
Mengingat masa lalu lebih baik berpotensi menambah penyesalan
Saat lelaki itu ingat masa lalu lebih baik, perlahan timbul penyesalan setelah menikah. Ia merasa dikekang dan mungkin jika terlalu jenuh, berpotensi terjadi perceraian.
Hidup bersama istri yang suka mengomel dan menjadikan keburukan itu sebagai perbuatan yang terus melukai hati tanpa mau menerima atau mengubah kelemahan pribadinya (saya yakin pasti ada sebab masuk akal seorang istri mengomel), hanya membuat dirinya semakin menyesal dan lebih ingin sendiri.
Ia akan terus mengingat masa lalu. Ia ingin kembali ke sana. Seandainya ada orang menjual mesin waktu, berapa pun harganya, pasti ia beli.
Mencari kebaikan masa kini bisa menyeimbangkan pikiran
Apakah salah mengingat masa lalu dan hal-halnya yang baik? Sama sekali tidak. Tetapi, ternilai tidak bijak dan tidak setara dengan keadaan masa kini. Istilah orang, apple to apple.
Apa yang terjadi pada masa kini seyogianya dibandingkan dengan hal lain yang juga terjadi pada masa kini. Artinya, keburukan istri harus juga dibandingkan dengan kebaikan yang telah ia lakukan.
Meskipun hati panas, kepala sebaiknya dingin untuk mampu memetakan. Tidak adakah kebaikannya yang bisa dikenang, menyenangkan, serta menghibur perasaan suami?
Akhir kata...
Membandingkan keburukan masa kini dengan kebaikan masa lalu adalah sangat tidak tepat. Setiap masa ada baik dan buruknya, jika adil dan jeli melihat. Kita seharusnya tidak terlena dengan kebaikan, sehingga samar menyigi keburukan.
Kita juga tidak menjadi sangat benci karena keburukan, sehingga buta menilai kebaikan. Masing-masing, baik kebaikan maupun keburukan, boleh mengandung maksud baik, tergantung cara menyikapinya.
Keburukan melatih kita mencari solusi untuk memperbaikinya. Kebaikan menghibur hati kita karena kekecewaan atas keburukan. Agar perasaan tidak terlena oleh sebab terlalu banyak kebaikan, pikirkanlah antisipasi keburukan yang mungkin terjadi. Itulah kebijaksanaan.
Kita tidak sedang berada di surga, bukan? Yang semua tahu bahwa hanya ada kebaikan di sana. Selama masih menginjakkan kaki di bumi, kebaikan dan keburukan seiring berjalan. Hendak jadi yang mana, terserah Anda.
Mari, jalani kehidupan dengan penuh kebijaksanaan. Sebaiknya kita berhenti membanding-bandingkan dengan keadaan masa lalu. Itu hanya menambah kekesalan dan penyesalan.
Pengkhotbah 7:10: Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik daripada zaman sekarang?" Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu.
...
Jakarta
28 Juni 2021
Sang Babu Rakyat
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI